Jumat, 04 Januari 2013

Sabarnya Said Si Penjual Sayur



DERU mesin dari sebuah mobil merk Panther jenis pick up memecah keheningan malam. Awalnya dekat. Lama nian semakin menjauh. Minggu 18 April 2012. Jarum jam menunjukkan pukul empat tiga puluh pagi. Dalam suasana dingin yang menikam badan, Said Rijal semakin mengencangkan tekanan gas mobil yang sedang di kendarainya.

Illustrasi
Lampu-lampu penerang yang berjejeran di sepanjang jalan Tengku Imum Lueng Bata, satu persatu ia tinggalkan. Dentuman suara musik yang di keluarkan V.C.D mobil kerap menemani nya dalam perjalanan malam. Love Me Many tembang populer dari penyanyi kenamaan Cinta Laura,sesekali menjadi temannya memecah keheningan malam. Mobilnya terus di pacu menuju arah Lambaro Kafe.
Sesampai di sana, mobil barang yang menyesaki jalan-jalan pasar Lambaro Kafe mulai berjejeran di parkiran menunggu giliran bongkar. Beberapa orang kelihatan sibuk membongkar muat, sayur-sayuran yang baru saja di datangkan dari Takengon dan Medan.
Said Rijal memasuki parkiran. Mobilnya dirapatkan ke sebuah mobil truk barang. Saling membelakangi. Wak Nan, seorang harlan (buruh bongkar muat) memasuki sayur-sayur pesanan Rijal ke dalam mobil panter pick up nya.

Tujuh tahun yang lalu, pria kelahiran Perlak, Aceh Timur ini mengadu nasib di Banda Aceh. Ia tamatan SMA Negeri Lhoksemawe pada tahun 2003. Pada mulanya Said Rijal bekerja di warung kelontong milik Hafsah yang berada di jalan T. Iskandar Beurawe, Banda Aceh. Setelah musibah tsunami meluluhlantakkan kota Banda Aceh, Said Rijal pulang kampong.
Saat musibah itu terjadi, ribuan nyawa rakyat Aceh melayang. Rumah-rumah hancur. Mata dunia pun tertuju ke Aceh. Provinsi paling barat di Indonesia. Bermacam jenis sumbangan digelontorkan. Mulai obat-obatan, dana dengan jumlah trilyunan hingga relawan kemanusiaan menuju Serambi Mekkah.
Said Rijal memanfaatkan momen tersebut. Pikirannya sudah mantap kini. Ia ingin kembali mengadu nasib di ibukota provinsi, dua bulan pasca gempa dan tsunami. Bertepatan pada tanggal 3 Maret 2005, ia kembali menginjakkan kakinya di kota Banda Aceh. Namun, kali ini ia memilih menjadi buruh bangunan. Ia mendapat upah empat puluh ribu per harinya ketika itu.
Saban hari, uang hasil membanting tulang jerih payah kuli bangunan ini ia tabung. Kian lama, uang tersebut sudah menunjukkan angka satu juta rupiah. Tak menunggu lama, uang tersebut kemudian ia manfaatkan sebagai modal mengalihkan perkerjaannya dengan berjualan sayur keliling.

Sang surya masih bersembunyi di balik perbukitan nun jauh di timur bumi. Said sudah berada di pasar Peunayong guna mengambil dagangannya pada toke bangku setempat. Said kemudian membawakan dagangannya ke setiap sudut kampong yang ada di Banda Aceh. Ia membawa dagangannya dengan becak barang yang ia sewa dari orang. Perkejaan itu kerap kali ia lakukan semenjak 2007 silam.
Lorong demi lorong ia jelajahi setiap paginya. Hampir setiap jalan dan gang yang berada di kecamatan Kuta Alam itu ia kunjugi sambil meneriaki: “sayur .. sayur.. sayur….”. Per hari nya, Said meraup untung berkisar 60 sampai 100 ribu rupiah.
Meskipun begitu, pria kelahiran 12 agustus 1985 ini terkadang juga merugi. Apalagi ketika musim hujan datang. Pelanggan Said jarang menkomsumsi sayur di saat hujan. Tak jarang ia membagi-bagikan sayur tersebut kepada anak kost-kosan yang berdekatan dengan tempat ia tinggal.
“Sebagai investasi masa depan, baik itu keharmonisan dan bekal di hari akhir nantinya,” kata said, prihal kedermawanannya membagi-bagikan sayuran.
Kisah ia mengayuh becak setiap harinya guna menjajakan sayur mayor di tiap lorong rumah, kini berganti dengan Said yang mengemudi mobil pick up jenis Panther. Ini merupakan buah dari kesabaran penggemar Cinta Laura tersebut.
Mobil yang ia beli setahun yang lalu itu, kini dipakai untuk melansir sayur dari Lambaro kafe ke pasar Peunayong. Sayur-sayur itu dipesan Said dari patner bisnisnya di Takengon, Aceh Tengah.
Saban hari sebelum subuh Said Rijal sudah menurunkan barang-barangnya di lapak-lapak Jalan Kartini Peunayong. Di sana telah ditunggu oleh Pelita Alam. Seorang rekan kongsinya selama ini. Pria asal Nagan Raya inilah yang membagi-bagikan sayur kepada nyak-nyak (nenek-nenek/ibu-ibu) yang berjualan di tempat itu.

Lika-liku perjalanan hidupnya yang teguh dalam pendirian dan semangat dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, kini telah membuahkan hasil. Bisnis menjual sayur Said Rijal kini dinantikan oleh warga Sabang. Sayap bisnisnya memang mulai dikembangkan ke kota kepulauan itu. Kesabaran dan ketabahan Said juga telah menghantarkan ia ke rumah seorang gadis di kampungnya, Perlak, Aceh Timur. Syarifah Al Syihab nama gadis tersebut.
“Insya Allah, pertengahan bulan lima (Mei) nanti saya akan melepaskan masa lajang,” utaranya, seraya sumringah dengan muka memerah.[ T.Hendra Keumala]

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda