Sabtu, 26 Januari 2013

" Dibawah Gurat Takdir "


Tampa terasa waktu telah menghantarkan ku dipenghujung bulan januari dua ribu tiga belas, sempurna sudah, dua puluh enam hari pertama bulan ditahun ini telah berlalu begitu saja, artinya dua puluh enam hari pula umur ini kembali dikikis oleh waktu kesempatan untuk ku semakin berkurang.

Bila gurat takdir masih memberi kesempatan untuk bertemu dengan tanggal 20 maret nanti, sempurna sudah umur ku menggapai dua puluh enam tahun, anggka dua lima telah terlewati, dua tahun itu telah berlalu begitu saja semuanya tidak begitu berarti.

Padahal anggka tersebut telah ditetapkan jauh – jauh hari, jauh pada saat – saat aku masih duduk di bangku sekolah, bersanding mesra diatas pelamin sutra. Itulah cita – cita yang pernah terlintas disaat usia remaja.

Banyak agenda diumur dua lima, mengukir hidup bersama, mendapat kerja yang layak dengan menyandang status sarjana, namun sayang mimpi itu malah menerangkapku dalam malam –malam panjang, malam yang sesak.

Mendengkuh disudut kamar, memeluk lutut yang membuat malam terasa amat panjang memendam harapan menyulam mimpi, menjahit janji – janji, masa depan. 

Namun semua itu terbenam dalam harapan, yang pernah di kupupuk dahulu. dan pasrah pada gurat takdir, meskipun sudah sekian kali tangan ini menegadah berlirih sendu dalam kabut sepi gelapnya malam, dengan penuh harapan tuhan mendengarkan bisikan hati yang tengah didera sunyi.




Senin, 07 Januari 2013

“ Catatan Penghujung Tahun 2012 ”


Pada hari itu hujan turun membasahi, dengan derasnya mehantam hamparan tanah gersang kota banda aceh, munking hujan ini untuk terakhir kali turun di bulan ini bahkan tahun ini, di penghujung tahun 2012 sebagai ungkapan selamat tinggal masa lalu, usai sudah, berbagai lika liku yang pernah dilalui akan menjadi kenangan dalam catatan sejarah hidup ini.

Catatan ini bukan untuk mengulang masa lalu dimasa yang akan datang, akan tetapi sebagai ajang evaluasi dari dalam menjalani hidup agar lebih beramakna dan bermaafaat tentunya. Dalam catatan ini akan saya uraikan menjadi tiga bagian rentang waktu yang telah dilalui, awal tahun, pertengahan, dan pada akhir tahun.

Pada awal tahun, disamping menjalani aktivitas sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi dikota banda aceh, sempat juga mengikuti kursus menulis di Muharram Journalis College ( MJC ),  selama enam bulan aku belajar disana, walau tidak mendapatkan ilmu yang memadai namun disisi pengalaman akan bertambah tentunya.

Aku mengikuti proses belajar disini sampai selesai dan pada akhirnya aku dimagangkan di Aceh Corner.co salah satu media oulain yang menyajikan berita diseputar aceh, disinilah detik – detik istimewa bagai mana merasakan indahnya menjadi wartawan, walau hanya sebulan, sebenarnya ini bukanlah misi utama yang harus kujalani selama berada dikuta raja, kenapa juga mengikuti kursus tersebut, bukankah kuliah itu lebih utama diselesaikan lebih dulu, pasti kawan – kawan bertanya demikian untuk menghilangkan rasa penasaran.

Manyangkut dengan persoalan ini ada tiga hal yang dapat saya pertanggung jawabkan,  pertama ingin menambah ilmu pengetahuan dibidang jurnalistik, yang kedua,  pada semester  tersebut tidak ada jadwal kuliah yang harus ku ikuti, adanya, pada semester depan, otomatis aku harus menunggu semester depan untuk mengulangi salah satu matakuliah yang belum lewat, yang ketiga, untuk mengisi waktu kosong selama satu semester, dengan menyisihkan sedikit uang beasiswa dari kampus, kemudian mengikuti kursus ini sampai selesai.

Pada permulaan tahun 2012, aku juga berhadapan dengan  hubungan asmara.. caileee……! Begitulah kira – kira “ hubungan asmara berhujung kecewa ”  pasalnya dia yang ku sayang keburu dilamar orang, mungkin ini persolan jodoh saja kaliya…! Benarsaja kata orang kerena cita tidak seharusnya memiliki.

Awal juni kembali melanjutkan kuliah, mengulang beberapa mata kuliah  yang tinggal pada semester lalu, bulan – bulan berikutnya jadwal kegiatan semakin padat selain menjalani kuliah harus berbagai waktu dengan aktivitas baru yaitu bergabung dengan sekolah antikorupsi aceh, disini banyak belajar mengenai anggaran advokasi, pada awal juli kemudian bergabung dengan Tim Pecapp program analisis anggaran yang dimotori fakultas ekonomi unsyiah.

Dengan serba keterbatasan pada tahun 2012 ini, meski pandai – pandai membagi waktu antara kerja dan belajar, sebelum melangkah ke tahun 2013 ada satu hal yang masih sangat mengecewakan, penundaan dibidang akademik, penundaan terhadap percapaian gelar sarjana, meski ada kecewa dan penyesalan namun masih ada hal yang patut kami banggakan, dengan berbagai sokongan dan dorongan dari kawan – kawan.

Bertepatan dengan tanggal 18 desember 2012 bersama dengan beberapa teman – teman, kami berhasil membangun wadah himpunan mahasiswa islam di kampus unida tercinta, walau organisasi ini masih berstatus persiapan, namun prestasi ini patut dibanggakan karena ini lahir dari hasil kerja keras dan komitmen kawan – kawan UNIDA dan KOMBES Himpunan Mahasiswa Islam BANDA ACEH,

Inilah Catatan akhir tahun, yang masih jauh dari kesempurnaan, masih banyak kekurangan dimana sini, namun ini hanya sebagai batu pijakan untuk melangkah ke tahun 2013.
Banda Aceh 2012 - 12 -31

Label:

Sabtu, 05 Januari 2013

. Saksi PA: Tuduhan Itu Rekayasa



Banda Aceh – Simpatisan Partai Aceh yang ikut memberikan kesaksian pada persidangan Mahkamah Konstitusi (MK) di gedung Fakultas Hukum Unsyiah, menenggarai tudingan-tudingan saksi dari kubu Irwandi-Muhyan tidak benar.

Kuasa Hukum PA, Kamaruddin mengatakan apa yang dituduhkan pihak pemohon dalam sidang lanjutan MK merupakan rekayasa, Senin (30/4) | Foto: T. Hendra Keumala
Di depan MK, melalui video conference, simpatisan PA yang mendukung Zaini-Muzakir mengatakan tuduhan-tuduhan oleh saksi Irwandi merupakan rekayasa. Teuku Hasan, salah seorang kader PA membantah tuduhan terhadap partainya yang dituding telah mengarahkan masyarakat Sawang pada hari pemilihan guna mencoblos pasangan PA.
“PA mengunjugi TPS di sawang  hanya ingin memberi penyuluhan terhadap para saksi dari PA di TPS Sawang, Aceh Utara,” jelasnya.
Ia mengatakan, kedatangan partisan PA tidak untuk mengarahkan masyarakat.
“Lagi pula kami dari PA dari tingkat gampong sampai ke kecamatan di haramkan oleh pemimpin kami untuk melakukan intimidasi,” tambah Teuku Hasan.
Dalam sidang lanjutan itu, ada beberapa korban yang meralat telah terjadi penganiayaan terhadap dirinya. Seperti halnya David yang sebelumnya menyatakan telah mengalami penganiayaan oleh massa PA.
“Saya timses Irwandi, saya menyatakan dengan sebenarnya tidak ada penganiayaan terhadap saya oleh massa Partai Aceh,” kata David saat persidangan itu berlangsung.
Sementara itu, Kamaruddin selaku pengacara dari Partai Aceh yang mendampingi para saksi menjelaskan pihaknya mampu membuktikan bahwa perjalanan Pemilukada 2012 sama sekali tidak berlangsung dibawah intimidasi atau terror dari partai yang dibelanya.
Menurut dia, Pilkada Aceh diselenggarakan berdasarkan pemilihan umum yang demokratis serta mengakomodir seluruh kepentingan politik.
“Baik partai politik lokal (parlok) maupun partai politik nasional dan perseorangan di Aceh.”
Ia mengharapkan MK dapat menilai secara objektif, sejauh mana signifikansi tindak pidana pemilu yang di tuduhkan oleh pemohon (Irwandi-Muhyan) kepada Partai Aceh.
“Kami pihak terkait beranggapan tuduhan kepada kami oleh pihak permohonan terlalu berlebihan dan merupakan fitnah,” tambahnya lagi.
Ia melanjutkan, pihaknya yakin dan percaya bahwa MK akan memberikan keputusan yang bijak, demi keselamatan rakyat Aceh.
“Keselamatan rakyat dan bangsa adalah hukum tertinggi negara,” pungkasnya.[T. Hendra Keumala]

Buruh Aceh Tuntut Upah Layak



Banda Aceh – Puluhan masyarakat dari Serikat Buruh, berunjuk rasa di depan kantor Gubernur Aceh pada Selasa 1 Mai 2012.
Dalam aksi tersebut, para buruh meminta Pemerintah Aceh agar serius dalam mengimplementasikan Pergub Aceh Nomor 76 tahun 2011.
Razikin, selaku koordinator aksi, menegaskan bahwa UMP di Aceh sebesar Rp 1.400.000, yang berlaku pada januari 2012.
Namun, dilapangan masih ada kontraktor atau pengusaha yang enggan menjalankan peraturan tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Muksalmina ketika diminta tanggapannya, mengatakan pihaknya sudah melakukan kerja keras dalam hal ini.
“Kita juga kesulitan jika ada buruh yang tidak berani melapor terhadap upah dibawah UMP,” jelasnya.
Katanya, pihak Disnaker akan menindak tegas bila ada kontraktor atau pengusaha yang memberikan upah di bawah UMP. Hal serupa juga diharapkan DPW Serikat Pekerja Aceh, Kota Banda Aceh.
“Kami juga berkeinginan untuk memperbaiki sistem dan kebijakan selama ini yang masih kurang berpihak kepada buruh,”  pungkas Razikin.[T. Hendra Keumala]

Komisi III DPR RI: Pecat Oknum Polisi Pengguna Narkoba


Banda Aceh – Komisi III DPR RI, Nasir Jamil mengharapkan agar oknum polisi berstatus tahanan terkait kasus narkoba, dipecat dari institusi kepolisian. Hal ini dikatakannya saat melakukan kunjungan ke Lapas Klas II A Banda Aceh, Selasa 1 Mai 2012 sekira pukul 16.30 WIB.

Komisi III DPR RI, Nasir Jamil
“Jika benar mereka melakukan itu (mengkonsumsi narkoba), saya bisa mengusulkan kepada Kapolda Aceh agar memberhentikan (mereka) dengan hormat,” ujarnya pada wartawan.
Nasir juga mengharapkan agar ke depannya, petugas lapas untuk lebih berani bertindak dan tidak membiarkan siapa saja, baik polisi maupun sipil menyembunyikan dan mengkonsumsi narkoba di lapas.
“Petugas lapas harus berani menindak dan membasmi peredaran narkoba di lapas. Selain itu, sipir juga harus membongkar pemakai dan pengguna barang haram tersebut,” lanjutnya.
Selain menyesalkan adanya penyebaran dan pemakaian narkoba di dalam lapas, Nasir juga meminta pihak terkait untuk mengusut penyebab mengamuknya narapidana (napi) dan tahanan.
Menurutnya, pengusutan ini penting dilakukan guna menemukan penyebab mengamuknya ratusan napi yang mengakibatkan kerusakan pada bangunan lapas.
“Saya mengharapkan agar segera diusut sehingga kita dapat mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi sampai mengamuknya napi dan tahanan itu,” katanya.[T. Hendra Keumala]

Label:

Nasir Jamil: Tidak Ada Kebebasan Pers, Tapi Kemerdekaan Pers



Banda Aceh – Tidak ada kebebasan pers yang ada kemerdekaan pers. Jika disebut kebebasan, maka akan kebablasan.

Komisi III DPR RI, Nasir Jamil
“Seperti yang dirujuk dalam UU No 40 Tahun 1999, dimana pada euphoria reformasi UU ini dijadikan sebagai peraturan lex spesialis bagi pekerja pers dalam menjalankan aktivitasnya,” jelas Komisi III DPR RI, Nasir Jamil dalam seminar Hari Kebebasan Pers di Gedung Sultan Selim II, ACC, Banda Aceh.
Menurutnya, pers dan fungsinya hari ini telah keluar dari kepatutan, bahkan banyak pekerja-pekerja pers dinilai belum professional. Sehingga, lanjutnya, banyak orang yang menilai hari ini bukan lagi kebebasan pers namun kebablasan pers. Namun, untuk mengatasi hal tersebut masyarakat yang merasa dirugikan oleh pemberitaan dapat menempuh jalur hukum sesuai dengan UU Pers No 40 Tahun 1999, yang mengatur untuk memberikan hak jawab.
Masyarakat yang dirugikan tersebut juga bisa menempuh jalur hukum. Namun, sebut Nasir, pekerja pers sendiri mempunyai Hak Tolak di persidangan. “Ini lah yang disebut lex spesialis karena sesuatu yang berkaitan dengan media (jurnalistik) diselesaikan dengan UU Pers,” terangnya.
Lebih lanjut Nasir mengatakan, pers dituntup untuk bisa netral meskipun pada saat ini perusahaan media sudah termasuk dalam industri bisnis. Netralitas ini, lanjut Nasir, diperlukan karena sangat berpengaruh pada pemberitaan.
“Menurut saya, netralitas akan mewujudkan keadilan dan demokratis,” tambahnya lagi.
Ia juga menekankan pada pekerja pers Aceh menjunjung tinggi etika jurnalistik. Karena kondisi pers hari ini merupakan salah satu pilar demokrasi (politik) di Indonesia pasca lahirnya reformasi, dimana Nasir Jamil menjelaskan, parlemen (DPR) sendiri tidak bisa melakukan pengawasan pada pers.
“Makanya, pers diharapkan bisa netral dalam menyajikan pemberitaan. Karena bila tidak bisa netral nanti bisa berhadapan dengan pemerintahan baru di Aceh,” pungkasnya.[T. Hendra Keumala]

GeMAS Tuntut Hentikan Proyek Pembangunan Dermaga CT-3



Banda Aceh – Puluhan massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Anti Suap (GeMAS) tuntut DPRA dan Pj Gubernur Aceh, untuk menghentikan sementara seluruh tahapan pelelangan atas proyek pembangunan dermaga bongkar Sabang CT-3 di bawah pelaksana Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS).

Massa dari GeMAS lakukan unjuk rasa di depan gedung DPRA. Aksi tersebut dilakukan guna menolak proyek pembangunan CT-3 pelabuhan Sabang yang dikelola BPKS, Jumat (4/5) di Banda Aceh | Foto: T. Hendra Keumala
Aksi unjuk rasa ini dilakukan di depan kantor DPRA  Jalan Tgk Daud Beureueh, Jum’at  4 Mai 2012, sekira pukul 10.00 WIB.
Saat melakukan unjuk rasa tersebut, massa dijumpai oleh Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda. Di depan massa, Sulaiman mengatakan akan akan menindak lanjuti dan akan menyampaikan hal ini kepada Ketua DPRA, Pj Gubernur, Kapolda dan Kejati.
Usai dijumpai Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, massa kemudian melanjutkan aksinya di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh. Dalam aksi tersebut, massa menuding tender dari pelelangan paket pekerjaan tersebut terkesan curang.
“Pelaksanaan tender diketahui berlangsung tidak sehat dan fair. Hal ini didasarkan pada upaya terselubung yang dilakukan. Baik oleh pihak BPKS maupun Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK),” ungkap Koordinator Aksi, Suhendri.
Jelas Suhendri, berdasarkan bukti dan dokumen yang dimiliki lelang proyek tersebut dilakukan dengan mengunakan sistem Penunjukan Langsung ( PL).
Bedasarkan Audit BPK–RI Nomor 007/S/XVIII.BAC/12/2008, tertanggal 31 Desember 2008 ditemukan adanya pelanggaran terstruktur dalam pelelangan. Menurut hasil kajian salah satu LSM di aceh, proyek Dermaga Bongkar Sabang baik  CT 1, 2 dan 3, dibawah penggelolaan  BPKS,  ada indikasi dugaan tidak pidana korupsi.
Menurut Suhendri, saat ini proyek yang sedang ditender dengan paket Rp135 milyar, ditengarai sudah mulai di arahkan untuk memenangkan salah satu relasi perusahan sebelumnya. Persekutuan jahat yang sedang di pertontonkan oleh pihak BPKS dan BMCK ini, akan menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan Pemerintah Aceh yang akan datang.
“Jika ini dibiarkan, maka Aceh akan terus digilas oleh perilaku korupsi,” pungkas Suhendri.[T. Hendra Keumala]

Bea Cukai Ringkus Wanita Pembawa Sabu



Banda Aceh – Wanita berinisial H, 28 tahun, mengaku dijanjikan dibayar Rp7 juta untuk menyeludupkan tiga butir sabu-sabu dalam duburnya dari Malaysia ke Banda Aceh.
Hal itu, kata Kepala Kantor Pengawas Bea Cukai Banda Aceh, Beni Novri dalam releasnya, menurut pengakuan tersangka kepada petugas bea cukai.
“Pelaku menyeludupkan narkoba jenis sabu sabu berjumlah tiga butir dengan berat berukuran 125 gram, dengan modus dimasukkan melalui dubur tiga butir,” kata Beni.
Kronologinya, berdasarkan profilling terhadap penumpang, petugas bea cukai mencurigai H, salah seorang penumpang Air Asia AK-1305 Rute Kuala Lumpur-Banda Aceh yang mendarat di terminal kedatangan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, pada hari jumat 04 Mei 2012, pukul 11.20 WIB.
Kata Beni, H diduga membawa barang terlarang berupa narkoba. Atas kecurigaan tersebut, kata Beni, dilakukan pemeriksaan barang bawaan penumpang. Namun tidak  ada hasil.
Karena menunjukkan sikap mencurigakan, pelaku dibawa ke Rumah Sakit Meuraxa untuk dironsen. “Dan hasilnya menunjukkan ada benda mencurigakan di dalam perut,” kata Beni.
Setelah menunggu beberapa saat, kata dia, benda dalam perut perempuan tersebut berhasil dikeluarkan, yaitu tiga butir kapsul lonjong berisi bubuk kristal putih.[T. Hendra Keumala ]

Guru Swasta Minta Persamaan Hak



Banda Aceh – Ratusan guru swasta dari tiga kabupaten dan kota di Aceh melakukan aksi unjuk rasa menuntut persamaan hak di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), sekira pukul 09.00 WIB, Senin 12 Mei 2012.
Ratusan guru yang berasal dari Pidie, Aceh Besar dan Banda Aceh ini mengatasnamakan diri dalam Ikatan Guru Swasta Aceh (IGSA) menuntut hak-hak mereka yang selama ini terkesan diintimidasi.
Koordinator Aksi, Bakhtiar dalam orasinya menyampaikan, selama ini guru honorer yang mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah negeri banyak yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Sedangkan yang mengabdikan dirinya pada sekolah-sekolah swasta tidak pernah diangkat menjadi pegawai (PNS),” katanya.
Dalam aksi itu, IGSA juga meminta pemerintah mencabut peraturan Nomor 5 Tahun 2010, yang dikeluarkan pemerintah melalui Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi. Tidak hanya itu, massa cekgu ini juga meminta pemerintah pusat mengeluarkan peraturan baru terhadap guru honorer dan swasta.
“Kami juga meminta Dewan Perwakilan Rakyat Aceh ( DPRA) agar memberikan jaminan kesehatan bagi guru swasta serta mengalokasikan tunjangan yang selama ini tak pernah kami terima,” tuntut Bahtiar.[T. Hendra Keumala]

Warga Tolak Eksploitasi Pasir Besi di Lampanah Leungah



Banda Aceh – Puluhan masyarakat Kemukiman Lampanah Leungah, Seulimum Aceh Besar melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Aceh, Selasa, 8 Mei 2012.
Dari aksi tersebut, masyarakat menilai pembahasan Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) perusahaan PT. Bina Meukuta Alam yang akan melakukan eksploitasi penyedotan pasir besi, di wilayah pemukiman mereka. Keberadaan PT ini dikhawatirkan akan mengakibatkan kerusakan pada lingkungan, abrasi pantai, merusak batu karang dan akan mengganggu aktivitas nelayan.
Taslim, warga Lampanah meminta kepada pihak Bapedalda Aceh agar mengkaji ulang pembahasan Amdal perusahaan tersebut. “Bapedalda harus melihat mana lebih besar, dampak negative atau positif  yang akan diterima masyarakat,” tambah Taslim.
Hal senada dikatakan Koordinator Aksi, Heriadi. Menurutnya, keberadaan PT. Bina Meukuta Ala mini sudah bertentangan dengan hukum dan UUD No. 32 Tahun 2009. Peraturan 27 Tahun 2012 Pasal 4 Ayat 3, dan Peraturan Tahun 2012 No. 9, tentang keterlibatan masyarakat terhadap dampak dalam pembuatan Amdal.
Sementara itu, Kabid Amdal Bapedalda Aceh, Rosmayani mengatakan akan menerima semua masukan dari masyarakat Lampanah Leungah.
“Kami akan menyampaikan ini ke rapat komisi Amdal nantinya,” ujarnya.
Mengenai keberadaan peralatan PT Meukuta Alam di lapangan, Rosmayani mengatakan, “secara aturan sebelum adanya surat ijin dari pemerintah, tidak boleh ada aktivitas apapun di lapangan.”[T. Hendra Keumala]

IKNR Dukung Pasangan Independen Selaku Bupati Nagan



Nagan Raya – Ikatan Masyarakat Nagan Raya (IKNR) se-Indonesia mendukung pasangan dari jalur perseorangan Asit Amin-Jasmi Hass untuk memenangkan pemilihan calon kepala daerah setempat.
Dukungan tersebut diwujudkan dengan mendirikan posko pemenangan calon bupati dan wakil bupati dari jalur perseorangan di Simpang Empat, Jeuram pada Minggu, 6 Mei 2012.
Pasca putaran kedua pemilihan bupati dan wakil bupati, masyarakat Nagan Raya Serantau yang mengatasnamakan Gerakan Perubahan Nagan Raya, meresmikan posko pemenangan sekaligus mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Asit Amin-Jasmi Hass.
Dalam pertemuan tersebut, turut juga dihadiri tokoh pemekaran Nagan Raya, warga IKNR baik dari Aceh Barat, Banda Aceh, Medan dan Jakarta.
Sofyan Sawang selaku tokoh pemekaran Nagan Raya mengatakan, kondisi daerah ini sangat jauh dari tujuan awal pemekaran.
“Maka, perlu dipikirkan lagi bersama-sama bagaimana mengembalikan Nagan Raya ke arah yang lebih baik dan bermartabat,” ujarnya.[T. Hendra Keumala]

Deposito Bobol, Ilyas Hamid Minta Dibebaskan



Banda Aceh – Ilyas A Hamid, mantan Bupati Aceh Utara periode 2007-2012  minta dibebaskan dari segala dakwaan korupsi terkait bobolnya deposito pemerintah setempat senilai Rp220 miliar. 
Nota pembelaan tersebut disampaikan di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bnda Aceh, yang diketuai Arsyad Sundusin didampingi hakim anggota Abu Hanifah dan M Taswir. Hadir sebagai jaksa penuntut umum Zainal Abidin. Permintaan Ilyas Hamid dibacakan kuasa hukumnya, Sayuti Abubakar, Selasa 8 Mei 2012.
“Terdakwa tidak tahu menahu masalah deposito tersebut. Terdakwa baru mengetahui deposito tersebut bermasalah setelah dibobol orang lain,” kata Sayuti, selaku kuasa hukum Ilyas Hamid.
Sayuti menambahkan, deposito milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara Rp220 miliar sebelumnya di Bank Mandiri Cabang Lhokseumawe dipindahkan ke Bank Mandiri Cabang Jalembar, Jakarta Barat awal Februari 2009. Pemindahan deposito tersebut karena bunga yang ditawarkan mencapai 10 persen. Sedangkan bunga deposito Bank Mandiri Cabang Lhokseumawe sekitar enam persen.
“Berdasarkan keterangan saksi di persidangan, proses pemindah deposito tersebut dilakukan mantan Wakil Bupati Aceh Utara Syarifuddin,” katanya.
Ia menegaskan, terdakwa Ilyas A Hamid tidak pernah memerintahkan mantan wakil bupati memindahkan deposito tersebut dari bank di Lhokseumawe ke Jakarta.
Selain itu kata dia, terdakwa Ilyas A Hamid tidak pernah menerima uang terkait bobolnya deposito tersebut, sehingga unsur memperkaya diri yang didakwakan jaksa penuntut umum tidak terbukti.
Karenanya, Sayuti memohon kepada majelis hakim membebaskan terdakwa Ilyas A Hamid dari segala dakwaan serta memulihkan nama baiknya selaku mantan kepala daerah.
“Berdasarkan fakta dan keterangan saksi selama persidangan, tidak ada bukti yang menyebutkan terdakwa Ilyas A Hamid bersalah. Karena itu, kami memohon majelis hakim membebaskannya dari segala tuntutan hukum,” pinta Sayuti Abubakar.
Usai mendengarkan nota pembelaan tersebut ketua majelis hakim Arsyad Sundusin memberikan waktu seminggu kepada jaksa penuntut umum menyampaikan replik. Sidang lanjutan akan digelar Selasa 15 Mei 2012 nanti.
Sebelumnya, jaksa penuntut umum menuntut terdakwa Ilyas A Hamid dengan hukuman 15 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi bobolnya deposito Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sebesar Rp220 miliar pada tahun 2009.
Tuntutan tersebut dibacakan jaksa penuntut umum Ali Akbar dan Kardono dalam sidang korupsi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Banda Aceh, Selasa 17 April 2012.
Dalam amar tuntutannya, jaksa mengatakan terdakwa bersalah melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 dan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHP.
Selain pidana penjara, jaksa juga menuntut terdakwa Ilyas A Hamid dengan hukuman denda Rp1 miliar subsidair enam bulan penjara serta membayar uang pengganti Rp2,5 miliar dengan subsidair tujuh tahun penjara.[T.Hendra

Penembakan Paya Rangkuloh Murni Kriminal



Banda Aceh – Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Gustav Leo mengatakan pemberondongan mobil CRV BK 1808 JA oleh OTK, saat melintasi jalan Banda Aceh – Medan pada Rabu dini hari, 16 mei 2012 sekitar pukul 00.04 WIB itu, murni kriminal.
Saat ini, pihak penyidik kepolisian sedang berupaya mengungkap tokoh pelaku penembakan tersebut dan latar belakang kejadiannya.
“Ini murni kriminal, jangan dikaitkan dengan urusan politik,” ujar Gustav pada wartawan.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, pemberondongan yang dilakukan terhadap satu unit mobil CRV BK 1808 JA mengakibatkan dua orang tewas, satu orang terluka dan kini sedang dirawat secara intensif di RS Fauziah Bireuen.
Salah satu korban tewas bernama Sukri (35) dan Cut Yetti (40). Mereka tewas akibat terkena tiga kali tembakan pelaku yang menggunakan mobil jenis Avanza. Sementara korban luka, T.M. Yasir, ketika kejadian duduk di bagian belakang.
Polisi telah mengumpulkan sejumlah barang bukti dari tempat kejadian perkara termasuk selongsong peluru jenis AK.[T. Hendra Keumala]

PA: Dukung Tito Sebagai Bupati Aceh Barat


  

Banda Aceh – Dewan pimpinan Partai Aceh (PA) mendukung  pasangan bupati dan wakil T.Alaidinsyah (Tito)- Nanda dalam putaran kedua pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Aceh Barat 17 Mei 2012.
Hal ini dikatakan Jurubicara pusat Partai Aceh (PA), Fachrul Razi setelah menggelar rapat bersama dalam konferensi pers di kantor PA Lamteumen, Banda Aceh pada Kamis (17 /5).
Dalam konferensi pers tersebut turut juga dihadiri oleh ketua umum pemenangan pusat Partai Aceh yang biasa disapa Abu Razak alias Abu Bakar. Ia menjelaskan dukungan dukungan PA terhadap pasangan Tito bukan dukungan individu melainkan dukungan politik.
“Kami telah meneken kontrak politik dengan pasangan yang sebelumnya didukung oleh 8 partai koalisi ini,” sebutnya lagi.
Menurutnya, PA yakin pasangan Tito dan Nanda akan memenangkan pemilihan tersebut. Dan yang terpenting, kata Fachrul komitmen politik antara PA dan Haji Tito untuk menjalankan UU MoU Helsinki secara integratif dan menyeluruh di Aceh Barat.[T. Hendra Keumala]

Dinas Kebudayaan Berikan Apresiasi Khusus Pada Miss Coffee



Banda Aceh – Aceh Multivision Grand Final Miss Coffee Indonesia Aceh dibuka Sabtu, 19 Mei 2012 di Museum Tsunami Aceh. Plt. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Rasyidan, memberikan apresiasi khusus pada pelaksanaan acara ini.
“Melalui Miss Coffee ini, warung atau kedai kopi yang banyak terdapat di negeri ini terutama Aceh, bisa menyediakan kopi Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, Miss Coffee bertugas memperkenalkan ragam budaya kopi Indonesia ke seluruh dunia. Nantinya pemenang akan dibawa berkunjung ke kebun kopi dan melihat proses pembuatan kopi di seluruh Indonesia.
“Kontes Miss Coffee Indonesia nantinya akan diikuti oleh wakil dari provinsi, kabupaten/kota penghasil kopi dan kota tingkat konsumsi yang tergolong besar di Indonesia,” pungkasnya.[T. Hendra Keumala]

Jumat, 04 Januari 2013

Satuan Gabungan Razia Pelanggaran Syariat Islam

http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2012/05/Z4C7674-300x200.jpg

Banda Aceh – Wilayatul Hisbah (WH) bersama dengan Satpol PP, Polri dan TNI menjaring puluhan pelanggar syariat Islam, Selasa 22 Mei 2012.
http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2012/05/Z4C7674-300x200.jpg
Personil Wilayatul Hisbah Provinsi Aceh menghentikan pengguna jalan yang memakai celana ketat saat menggelar razia di Simpang Mesra, Banda Aceh, Selasa (22/5). Dalam razia tersebut WH menangkap puluhan pengguna jalan yang memakai pakaian ketat. (DIRA).
Razia rutin yang dilangsungkan di jalan T. Nyak Arief tersebut berlangsung pada pukul 15.00 WIB, guna menegakkan Qanun No. 11, 12, 13 Tahun 2002, tentang Akidah, Ibadah dan Syariat Islam. Selain melakukan razia di jalan-jalan protokol, satuan gabungan ini juga melakukan operasi di kawasan wisata.
“Walau sering kali dilakukan razia, masyarakat masih banyak yang melanggar syariat,” jelas Kasi Penindakan Syariat Islam Banda Aceh, Samsudin pada wartawan.
Katanya, dari hasil razia pelanggaran syariat tersebut banyak sekali terjaring laki-laki yang memakai celana pendek dan wanita berpakaian ketat. “Semua pelanggar langsung mendapat pembinaan di lapangan oleh petugas,” jelasnya.[T. Hendra Keumala]

DSI: Masih Banyak Penggar Syariat Di Aceh



Banda Aceh – Meskipun acap kali diadakan razia rutin penegakan Syariat Islam, namun masih banyak masyarakat yang melanggar aturan tersebut. Hal ini diutarakan Kepala Bidang Penegakan Kebijakan Daerah Syariat Islam, Yustamin, Selasa 22 Mei 2012.
“Masih banyak masyarakat yang enggan mematuhi qanun Syariat Islam,” jelasnya pada wartawan.
Katanya, untuk mengantisipasi serta meminimalisir pelanggar syariat, Polisi Wilayatul Hisbah (WH) turut melibatkan satuan keamanan lainnya seperti dari institusi Polri dan TNI. Yustamin menjelaskan, keterlibatan seluruh elemen aparat keamanan tersebut diperlukan agar Syariat Islam di Aceh benar-benar berjalan secara kaffah.
“Agar pelaksanaan Syariat Islam bisa diamalkan oleh penduduk Aceh secara benar, dinas (DSI) juga telah mengirimkan amanat-amanat pada setiap Khatib Jum’at di seluruh kabupaten dan kota di Aceh agar turut memberikan nasehat tentang pentingnya menegakkan Syariat Islam di Serambi Mekkah ini,” katanya. [T. Hendra Keumala]

Sabarnya Said Si Penjual Sayur



DERU mesin dari sebuah mobil merk Panther jenis pick up memecah keheningan malam. Awalnya dekat. Lama nian semakin menjauh. Minggu 18 April 2012. Jarum jam menunjukkan pukul empat tiga puluh pagi. Dalam suasana dingin yang menikam badan, Said Rijal semakin mengencangkan tekanan gas mobil yang sedang di kendarainya.

Illustrasi
Lampu-lampu penerang yang berjejeran di sepanjang jalan Tengku Imum Lueng Bata, satu persatu ia tinggalkan. Dentuman suara musik yang di keluarkan V.C.D mobil kerap menemani nya dalam perjalanan malam. Love Me Many tembang populer dari penyanyi kenamaan Cinta Laura,sesekali menjadi temannya memecah keheningan malam. Mobilnya terus di pacu menuju arah Lambaro Kafe.
Sesampai di sana, mobil barang yang menyesaki jalan-jalan pasar Lambaro Kafe mulai berjejeran di parkiran menunggu giliran bongkar. Beberapa orang kelihatan sibuk membongkar muat, sayur-sayuran yang baru saja di datangkan dari Takengon dan Medan.
Said Rijal memasuki parkiran. Mobilnya dirapatkan ke sebuah mobil truk barang. Saling membelakangi. Wak Nan, seorang harlan (buruh bongkar muat) memasuki sayur-sayur pesanan Rijal ke dalam mobil panter pick up nya.

Tujuh tahun yang lalu, pria kelahiran Perlak, Aceh Timur ini mengadu nasib di Banda Aceh. Ia tamatan SMA Negeri Lhoksemawe pada tahun 2003. Pada mulanya Said Rijal bekerja di warung kelontong milik Hafsah yang berada di jalan T. Iskandar Beurawe, Banda Aceh. Setelah musibah tsunami meluluhlantakkan kota Banda Aceh, Said Rijal pulang kampong.
Saat musibah itu terjadi, ribuan nyawa rakyat Aceh melayang. Rumah-rumah hancur. Mata dunia pun tertuju ke Aceh. Provinsi paling barat di Indonesia. Bermacam jenis sumbangan digelontorkan. Mulai obat-obatan, dana dengan jumlah trilyunan hingga relawan kemanusiaan menuju Serambi Mekkah.
Said Rijal memanfaatkan momen tersebut. Pikirannya sudah mantap kini. Ia ingin kembali mengadu nasib di ibukota provinsi, dua bulan pasca gempa dan tsunami. Bertepatan pada tanggal 3 Maret 2005, ia kembali menginjakkan kakinya di kota Banda Aceh. Namun, kali ini ia memilih menjadi buruh bangunan. Ia mendapat upah empat puluh ribu per harinya ketika itu.
Saban hari, uang hasil membanting tulang jerih payah kuli bangunan ini ia tabung. Kian lama, uang tersebut sudah menunjukkan angka satu juta rupiah. Tak menunggu lama, uang tersebut kemudian ia manfaatkan sebagai modal mengalihkan perkerjaannya dengan berjualan sayur keliling.

Sang surya masih bersembunyi di balik perbukitan nun jauh di timur bumi. Said sudah berada di pasar Peunayong guna mengambil dagangannya pada toke bangku setempat. Said kemudian membawakan dagangannya ke setiap sudut kampong yang ada di Banda Aceh. Ia membawa dagangannya dengan becak barang yang ia sewa dari orang. Perkejaan itu kerap kali ia lakukan semenjak 2007 silam.
Lorong demi lorong ia jelajahi setiap paginya. Hampir setiap jalan dan gang yang berada di kecamatan Kuta Alam itu ia kunjugi sambil meneriaki: “sayur .. sayur.. sayur….”. Per hari nya, Said meraup untung berkisar 60 sampai 100 ribu rupiah.
Meskipun begitu, pria kelahiran 12 agustus 1985 ini terkadang juga merugi. Apalagi ketika musim hujan datang. Pelanggan Said jarang menkomsumsi sayur di saat hujan. Tak jarang ia membagi-bagikan sayur tersebut kepada anak kost-kosan yang berdekatan dengan tempat ia tinggal.
“Sebagai investasi masa depan, baik itu keharmonisan dan bekal di hari akhir nantinya,” kata said, prihal kedermawanannya membagi-bagikan sayuran.
Kisah ia mengayuh becak setiap harinya guna menjajakan sayur mayor di tiap lorong rumah, kini berganti dengan Said yang mengemudi mobil pick up jenis Panther. Ini merupakan buah dari kesabaran penggemar Cinta Laura tersebut.
Mobil yang ia beli setahun yang lalu itu, kini dipakai untuk melansir sayur dari Lambaro kafe ke pasar Peunayong. Sayur-sayur itu dipesan Said dari patner bisnisnya di Takengon, Aceh Tengah.
Saban hari sebelum subuh Said Rijal sudah menurunkan barang-barangnya di lapak-lapak Jalan Kartini Peunayong. Di sana telah ditunggu oleh Pelita Alam. Seorang rekan kongsinya selama ini. Pria asal Nagan Raya inilah yang membagi-bagikan sayur kepada nyak-nyak (nenek-nenek/ibu-ibu) yang berjualan di tempat itu.

Lika-liku perjalanan hidupnya yang teguh dalam pendirian dan semangat dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, kini telah membuahkan hasil. Bisnis menjual sayur Said Rijal kini dinantikan oleh warga Sabang. Sayap bisnisnya memang mulai dikembangkan ke kota kepulauan itu. Kesabaran dan ketabahan Said juga telah menghantarkan ia ke rumah seorang gadis di kampungnya, Perlak, Aceh Timur. Syarifah Al Syihab nama gadis tersebut.
“Insya Allah, pertengahan bulan lima (Mei) nanti saya akan melepaskan masa lajang,” utaranya, seraya sumringah dengan muka memerah.[ T.Hendra Keumala]

Korban Konflik Tuntut Rumah



Banda Aceh – Ratusan korban konflik dari berbagai desa di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, menuntut pemerintah dan Badan Reintegrasi Aceh (BRA) terkait pembangunan rumah yang dibakar masa konflik dulu. Aksi tersebut dilakukan di kantor Gubernur Aceh, Senin 23 April 2012.
http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2012/04/Demo-BRA-300x227.jpg
Dek Wen: Warga Bener Meriah dan Aceh Tengah menuntut pemerintah Aceh memenuhi hak mereka sebagai korban konflik Aceh
“Tujuh tahun sudah Aceh mehirup udara damai, tapi sampai detik ini kami belum mendapatkan hak-hak kami sebagai korban konflik,” ungkap Koordinator Aksi, Maulana.
Katanya, sejak tahun 2007 pihaknya sudah menunggu  bahkan dua bulan yang lalu mereka telah meminta kepada penjabat gubernur ( PJ ) agar segera melakukan realisai. Maulana menegaskan sebelum Badan Re-integrasi Aceh ( BRA ) berakhir, pemerintah harus segera melakukan penyelesaian tentang  hal ini.
“Bila ini terus di biarkan maka akan terjadi kecemburuan sosial yang akan berimbas kepada konflik horizontal dalam masyarakat nantinya.”
Meskipun pemerintah mengatakan  rumah yang dibakar saat konflik terjadi merupakan rumah kebun dan tidak layak disebut sebuah rumah, namun sebut Maulana, pernyataan tersebut menjadi kontradiktif. Pasalnya,  masyarakat hanya memiliki rumah seperti itu.
Maulana beralasan pihaknya tidak menyelesaikan permasalahan ini di kabupaten karena ia menuding, disana terjadi permainan. “Semua aparat pemerintahan level kabupaten melakukan manipulasi data,” ungkapnya.
Karenanya, mewakili massa aksi Maulana meminta kepada Pemerintah Aceh, agar sergera membentuk tim khusus yang melibatkan kepolisian untuk mengusut masalah ini.
“Kami akan bertahan sampai satu bulan disini, sampai ada kejelasan dari pemerintah,”  tegas maulana.
Pihak demonstran juga mengharapkan agar lembaga yang bersangkutan untuk mendata ulang korban konflik di Aceh Tengah dan Bener Meriah. “Karena di lapangan ada yang sudah mendapatkan dua sampai tiga rumah.” [T.Hendra Keumala]

Sanggar Seulaweut Pentaskan Seni Daerah Aceh

http://acehcorner.com/wp-content/uploads/2012/05/Z4C7674-300x200.jpg


Banda Aceh – Peringati hari seni se-dunia, sanggar seni Seulaweut hibur warga Banda Aceh, di Lapangan Tugu, Darussalam pada Sabtu 28 April 2012.
Acara yang dirangkai dengan Piasan Aneuk Meuseni Tapuga Nanggroe Budaya Droe Beu Ta Cinta ini, telah dipersiapkan selama dua minggu terakhir.
“Piasan ini juga di rangkai dengan pelantikan pengurus sanggar seulaweut baru, tadi pagi, sekaligus memperingati hari seni se-dunia, yang jatuh pada tanggal 29 hari minggu besok,” terang Ketua Panitia, Adli pada wartawan.
Ia juga mengatakan acara ini sengaja dikemas dalam bentuk hiburan rakyat. Pada pentas seni tersebut, ikut ditampilkan Tari Saman Gayo, Rapa-i Geleng, Liqok Pulo, Tarian Meusare-Sare, Ratoh Jaroe dan Rebab. Selain itu, katanya, juga menampilkan seni tradisi lainnya seperti pantonim dengan tema perdamaian, teaterikal puisi serta seni kreasi baru lainnya.
“Di samping kami mempertahankan seni tradisi, kami juga akan mengembangkan seni kreasi baru, yang akan ditampilkan seperti tarian Ratoh Jaroe dan Rebab,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Sanggar Seni Seulaweut, Muksalmina mengatakan pentas seni tersebut juga didukung sejumlah sanggar lainnya, seperti Sanggar Rumah Yatim, TDC of Tanah Rencong, Saleum Group, Raket Band, Tangke Band dan Joel Pasee.
“Sanggar Seulaweuet, selain memfokuskan pada pengembangan seni tradisi Aceh, kami juga terus berupaya mempromosi budaya melalui cara-cara yang mudah diterima masyarakat, seperti pertunjukan seni tradisi,” tambahnya.
Menarik
Salah seorang warga Banda Aceh, Amel dari Darussalam mengatakan acara yang digelar tersebut sangat menarik. “Selain menghibur juga banyak menampilkan kesenian Aceh,” jelas mahasiswi Psikologi Unsyiah ini.
Hal senada juga dikatakan Rasyidin, warga Punge Ujong, Banda Aceh. “Selama ini, kesenian Aceh sangat jarang di pentaskan secara terbuka di depan khalayak ramai. Dengan diadakan even ini, saya berharap kita semua mau mencintai kesenian Aceh,” harapnya. ( T. Hendra keumala ]

BRA Bentuk Tim Verifikasi



Banda Aceh – Badan Re-Integrasi Aceh (BRA) membentuk tim khusus yang akan mendata kembali rumah-rumah korban konflik, yang berada di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Pembentukan tim khusus ini dilakukan setelah sebelumnya mengadakan rapat pembentukan tim khusus dengan perwakilan unjuk rasa korban konflik, dari Aceh Tengah dan Bener Meriah, di Jl. Mohd Thaher, No. 18 Lueng Bata, sekira pukul 14.00 WIB, pada Rabu 26 April 2012.
Menurut hasil rapat tersebut dikatakan, dalam satu tim yang akan diterjunkan nantinya berjumlah 4 orang. Tim ini akan berkerja selama empat hari. Setiap tim tersebut akan mendatangi 80 rumah korban konflik yang berada di Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Tim ini nantinya di ketuai oleh Junaidi Hasan yang juga akan melibatkan masyarat, pihak Muspida, Muspika serta BRA kabupaten setempat.
Ketua BRA Haniff Asmara mengatakan, pembentukan tim ini guna memverifikasi kembali data-data korban konflik yang berada di wilayah Aceh Tegah dan Bener Meriah supaya nantinya tepat sasaran.
“Bila ada  masyarakat yang mendapatkan rumah ganda di lapangan nantinya pasti aka ada konsekwensi,” jelas Hanif.[T Hendra Keumala ]

Buruh Aceh Tuntut Upah Layak



Banda Aceh – Puluhan masyarakat dari Serikat Buruh, berunjuk rasa di depan kantor Gubernur Aceh pada Selasa 1 Mai 2012.
Dalam aksi tersebut, para buruh meminta Pemerintah Aceh agar serius dalam mengimplementasikan Pergub Aceh Nomor 76 tahun 2011.
Razikin, selaku koordinator aksi, menegaskan bahwa UMP di Aceh sebesar Rp 1.400.000, yang berlaku pada januari 2012.
Namun, dilapangan masih ada kontraktor atau pengusaha yang enggan menjalankan peraturan tersebut.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Muksalmina ketika diminta tanggapannya, mengatakan pihaknya sudah melakukan kerja keras dalam hal ini.
“Kita juga kesulitan jika ada buruh yang tidak berani melapor terhadap upah dibawah UMP,” jelasnya.
Katanya, pihak Disnaker akan menindak tegas bila ada kontraktor atau pengusaha yang memberikan upah di bawah UMP. Hal serupa juga diharapkan DPW Serikat Pekerja Aceh, Kota Banda Aceh.
“Kami juga berkeinginan untuk memperbaiki sistem dan kebijakan selama ini yang masih kurang berpihak kepada buruh,”  pungkas Razikin.[T. Hendra Keumala]

Polsek Kuta Alam Tangkap Pelaku Curanmor



Banda Aceh – SF warga Ujong Batee, Aceh Besar, pada Rabu 9 Mei 2012 diciduk aparat keamanan dari Polsek Kuta Alam Banda Aceh. Diduga, SF merupakan tersangka pencurian sepeda motor milik warga Kampung Laksana pada 25 April lalu.
Menurut keterangan Kapoltabes, AKBP Moffan, melalui Kapolsek Kuta Alam, AKP Agus Wahyudi mengatakan, SF ditangkap pihaknya karena diduga telah melakukan pencurian sepeda motor merk Revo, milik M. Yunus dengan plat nomor BL 3423 QL.
“Dari laporan korban dan keterangan-keterangan yang berhasil dikumpulkan dari Tempat Kejadian Perkara (TKP), kami kembangkan dan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini,” terang Agus Wahyudi.
Penelusuran yang dilakukan polisi, kata Agus, mengarah pada tersangka berinisial SF (19) asal Kota Lhoksemawe. SF selama ini tinggal diperumahan Ujong Batee, Aceh Besar kerap mendatangi rumah korban guna menjumpai kawannya di Jalan Durian Kampung Laksana.
“Kecurigaan awal tersangka SF terlibat karena setelah kejadian hilangnya kendaraan milik M. Yunus tersebut, tersangka tidak pernah lagi mendatagi rumah korban,” ungkap Wahyudi.
Lebih lanjut ia mengatakan, dari hasil penyelidikan pihaknya terus mengembangkan kasus tersebut sampai tersangka akhirnya berhasil kita ringkus di rumah kakak angkatnya, daerah Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh. [T. Hendra Keumala]

Kinerja SKPK Singkil Dituding Sarat Masalah



Banda Aceh – Program Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten (SKPK) Singkil, ditengarai sarat masalah. Bahkan, Gerakan Mahasiswa Peduli Aceh Singkil (GEMAS) menuding, program yang dibuat pemkab setempat hanya copy paste (copas) belaka.
“Selama ini, setiap tahunnya program SKPK Singkil terkesan copas dan fungsi pengawasan legislative nya juga mandul,” ungkap Koordinator Aksi GEMAS, Sukran Sastra saat melakukan unjuk rasa di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Jalan Teungku Daud Beuereueh, Banda Aceh, pada Kamis 10 Mei 2012.
Aksi yang dilakukan sekira pukul 10.00 pagi tersebut, dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang berada di bawah payung GEMAS. Kebobrokan kinerja pemerintah setempat, dimisalkan Sukran, seperti kasus terkini yang sedang terjadi di Aceh Singkil yakni pembangunan rumah ibadah (gereja), tanpa sepengetahuan dan izin masyarakat.
Padahal, jelas Sukran, ini jelas melanggar Surat Keputusan Bersama (SKB) 2 Menteri Nomor 9, Tahun 2006 dan Nomor 8 Tahun 2008, Pergub Aceh Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 3 Ayat 2 dan UUPA Pasal 127 Ayat 4.
Ada sebuah pembiaran oleh Pemkab Aceh Singgkil untuk kasus ini. Hal tersebut membuktikan bahwa Pemerintah Aceh Singkil masih dalam keadaan tidur,” ketusnya di hadapan massa.
Melalui aksi ini, GEMAS mendesak Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan menindak tegas, siapa saja pihak yang telah melanggar aturan main tentang pendirian rumah ibadah di Aceh Singkil tersebut.
Aksi yang dimulai di Simpang Lima, Banda Aceh ini juga mengusung gambar Ketua DPRK Aceh Singkil yang sudah dibalut kain putih, sebagai wujud matinya pengawasan legislative setempat.
Wakil Ketua DPRA, Amir Helmi saat menemui pengunjuk rasa mengatakan akan menyampaikan tuntutan mahasiswa ini pada Gubernur dan dalam rapat dewan di DPRA serta meneruskan ke Bupati Singkil.
“Apabila perlu, nanti kami akan fasilitasi langsung dengan  ketua DPRA agar semua aspirasi bisa diserap,” katanya.
Lebih lanjut Amir Helmi mengatakan, Serambi Mekah merupakan salah satu daerah istemewa di Indonesia. “Tapi gereja semakin berkembang di Aceh. Untuk menghindari masalah di daerah dalam waktu dekat, akan ada qanun tentang izin pembuatan rumah ibadah,” akhirinya.[T. Hendra Keumala]

Guru Swasta Minta Persamaan Hak



Banda Aceh – Ratusan guru swasta dari tiga kabupaten dan kota di Aceh melakukan aksi unjuk rasa menuntut persamaan hak di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), sekira pukul 09.00 WIB, Senin 12 Mei 2012.

Ratusan guru yang berasal dari Pidie, Aceh Besar dan Banda Aceh ini mengatasnamakan diri dalam Ikatan Guru Swasta Aceh (IGSA) menuntut hak-hak mereka yang selama ini terkesan diintimidasi.

Koordinator Aksi, Bakhtiar dalam orasinya menyampaikan, selama ini guru honorer yang mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah negeri banyak yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Sedangkan yang mengabdikan dirinya pada sekolah-sekolah swasta tidak pernah diangkat menjadi pegawai (PNS),” katanya.

Dalam aksi itu, IGSA juga meminta pemerintah mencabut peraturan Nomor 5 Tahun 2010, yang dikeluarkan pemerintah melalui Menteri Pemberdayaan dan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi. Tidak hanya itu, massa cekgu ini juga meminta pemerintah pusat mengeluarkan peraturan baru terhadap guru honorer dan swasta.

“Kami juga meminta Dewan Perwakilan Rakyat Aceh ( DPRA) agar memberikan jaminan kesehatan bagi guru swasta serta mengalokasikan tunjangan yang selama ini tak pernah kami terima,” tuntut Bahtiar.
[T. Hendra Keumala]