Jumat, 20 Desember 2013

Sewa Umeong


Sewa umeong , begitulah sebuah adagium Tempo dilee yang pernah dipakai dalam masyarakat gampong, istilah ini pasti tidak asing bagi mareka masyarakat perdesaan aceh, apalagi mereka masyarakat yang berdomisili di wilayah pantai barat aceh khusunya nagan raya, khususnya para petani atau ureng meugo blang, istilah ini sangat populis pada era tahun 70 an, sejalan dimana pada umunya masyarakat nagan mengadukan nasib mereka pada hasil pertanian khususnya padi.

Rasanya, belum lengkap jadinya bila belum memiliki sepetak sawah untuk menanam padi, meskipun itu tergolong kecil, sekalipun mereka yang sudah berkehidupan mapan dengan menerima transferan gaji dari pemerintah setiap bulannya, begitupun pada umumnya anak-anak muda,  mereka mendedikasikan dirinya untuk bertani, apalagi bagi mereka yang hendak berumah tangga, tentu meugo menjadi andalan utama untuk megumpulkan manyam demi untuk memenuhi pinagannya mereka.
Menjadi petani memang sesutu yang membanggakan dan pekerjaan mulia, apa lagi, Jeumeot, pekerja keras seorang pemuda, menjadi lirikan para gadis, bahkan nilai plus calon sang mertua untuk dijadikan menantu, pendidikan, mungkin masih sangat tabu begi mereka, walau ada beberapa yang menempuh jalur pendidikan perguruan tinggi, itupun masih dapat dihitung jari, pendidikan seseorang juga sangat tergantung dari luas, luas nya sawah yang dimiliki, atau mereke anak juragan tanah, sisanya adalah mereka-meraka yang membayar sewa umeng yang hanya dapat menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Inilah mereka-mereka yang tidak memili umeng sendiri, yang banyak mengadukan nasibnya kepada jurangan tanah, dengan mendekati mereka yang memiliki umeng luas, dengan ketentuan akan membeyar sewa pada saat  musim panen tiba, tentu sesuai dengan, kesepakatan dan setimpa dengan luas umeng yang disewanya pula. Biasanya, mereka juga akan menyewa jasa kerbau untuk menggarap sawah-sawah mereka, yang dibayar sesudah memperoleh hasil karena pembayarannya masih belum mengandalkan uang  melainkan hanya dengan “ padi ’’ adalah dengan takaran naleh, gunca, sesuai dengan luas atau lahan, yang telah ditentukan, adapula yang dibayar menurut hasil panen yang diperoleh, tergantung kesepakatan awal antara si penyewa dan yang menyewa lahan.

Dan bergitupu sebuah gambaran kehidupan masa lalu mengendap disudut-sudut ingatan, kemudian berlalu seiring lajunya jaman, umeng yang pada masa dulu menjadi andalan kini dibajak oleh gedung-gedung ruko-ruko bertingkat, membayar sewa kebau itu hanyalah cerita lalu, jaman sekarang adalah masa dimana Nip berbicara. Kerena jaman sudah beda.
Meskipun jaman sudah beda, kehidupan bertani sudah di anggab sesuatu yang tabu, sepertinya istilah sewa umeng, masih tetap saja digunakan dalam masyarakat, baru-baru ini, setelah sekian lama padam istilah itu kembali terdegar dari seseorang. boleh dikatakan teman ngopi lah, dari cara berpenampilan dapat saya simpulkan ia ber berprofesi sebagai salah seorang rekanan proyek pemerintah di Kabupaten Nagan Raya, setidak nya ia pernah mengikuti prosesi tender proyek.

Lebih kurang, begini tutur kawan saya ini, sangat jarang dan tabu bagi pemerintah itu untuk berlaku transparan dalam proses tender, dan yang paling memberatkan ketika kewajiban membayar “ Sewa Umeng ” upeti yang harus dipenuhi oleh rekanan kepada si pemilik paket pekerjaan, sebelum Sesuatu belum ada kejelasan”. Ops..keceblosan..!

Tunggu dulu, Sebenarnya ini hanyalah obrolan seputar warung kopi, yang lepas begitu saja, liar tidak mengarah, begitupun, tidak baik juga terlalu cepat berkesimpulan setiap obrolan yang dilahirkan dari warung kopi adalah sesuatu yang tidak penting untuk dibicarakan, karena setiap sesuatu yang berawal dari pembicaraan warung kupi biasanya juga ada sangkut pautnya dengan fenomena kehidupan masyarakat.
Ah peduli amat,  bukan mengapa ini hanyalah cangpanah warong kupi, bila beralas dari uraian di atas, Kalian pasti mempu membedakan dan ketepatan  antara istilah Sewa Umeng yang digunakan Endatu Tempo dulu dengan istilah yang di gunakan sekarang ini. begitupun waktu pembayarannya. Sangat jauh berbeda bukan? Lalu kalian, apalagi saya, yang sudah barang tentu menimnulkan rasa ingin tahu, menyisakan pertanyaan dalam benak masing-masing, Benarkan adanya istilah demikian lalu siapa  sich penguasa mutlak dari  “ Umeong”  di Nagan ..?

Meu kaoi Bak Buy


Tadi sore minggu19 Mei 2013 kedatangan seorang teman ke kost, kebetulan ia juga berasal dari satu daerah dengan saya, lama juga tidak berjumpa dengan nya semenjak saya angkat kaki dari kampung menimba ilmu ke Kuta Radja, tuhun 2007 lalu, semenjak itu saya sudah jarang berjumpa dengan nya, meski saya sering pulang pada saat libur kuliah.

Bila dilihat dari umurnya, saya lebih jauh tertinggal dengan nya, tapi sikap nya yang ramah tampa memilih-milih kawan, membuat saya tidak ada sekat antara kami, malah ia suka bercanda, dan tampi apa adanya. sampai pada hari itu aku masih menangkap lelocon dan kesederhanaanya persis seperti pada saat-saat pertama ia turun gunung dulu, meskipun banyak dari teman-teman seperjuanganya dulu yang sudah memiliki mobil mewah dan memilih hidup menjadi kontraktor.

Pertemuan itu benar-benar membuat saya heppy dihari minggu itu, dengan mendengar potongan-potongan cerita darinya, realita yang terjadi dikalangan para pejuang aceh merdeka yang sekaliber dengan nya dulu.

Banyak dari kawan-kawannya yang seprofesi denganya dulu sudah sukses menjadi kontraktor dengan mengikuti pelelangan proyek ke provisi, inilah yang menjadi motivasinya untuk datang keprovinsi.

Namun harapan itu sangat bertolak belakang dengan perkiraan sebelunya, ia kerap mendapati janji-janji manis belaka dari teman-temannya.

Ureung Geutanyo Menyeu di laet sapeu pakat ban troh udarat kalaen kenira..!

Ia mengumpamakan teman-teman seperjuangannya pada saat melobi proyek ke provinsi mereka mengatas namakan jamaah KPA, atau anak yatim, tapi disaat pekerjaan itu menang sudah menjadi milik perseorangan.
ia mengibaratkan seperti meluruskan ekor anjing.
Saban lege tape tupat Iku ase lop page.. !

Persis seperti kita luruskan ekor anjing masuk pagar, lurus disaat ada sesuatu yang menghadang, dan untuk memuluskan pada saat memasuki pagar. kondisi ini membuat ia kerap berpikir prakmatis.


Lageu tameu kaoi bak bui...

Seperti kita berhajat kepada babi....

Ibarak kita berladang ( Menanam padi) di hutan belantara, yang menjadi tantangan adalah hama babi jika kita tidak berbaik dengan nya tentu tamanan itu tidak akan selamat. Tentu dengan cara Meuka Uoi bak Bui..!

Hai Buy bek hile neupekaru tanaman pade nyo, watee meuhase lon peuduk peut boh ulee nibak keudreuneh..!

Panenpun tiba, sang pemilik kebun menyangupi hajatannya kepada babi, dengan meletakkan beberapa ikatan nibai padi disebuah pokok kayu, pada saat itulah sang pemilik kebun tersebut menghunuskan tombak ke tubuh babi...!

Maksudnya adalah berpura-pura baik, namun dibalik kebaikan itu ada dendam yang dipelihara, yang pada sewaktu-waktu akan membinasakan []

Petimang Hana Meu oeh



" Keupe tajak sikula, lon manteng hana sikula kejet keu anggota DPRK ( Dewan Perwakilan Rakyat " Ketua Lom "

Buat apa bersekolah, saya saja tidak sekolah sudah menjadi Anggota DPRK, sebagai ketua lagi. sepintas pernyataan sangat tidak layak dilontarkan oleh seorang penjabat publik, yang mewakili rakyat, dan sangat mengores hati masyarakat yang telah memilihnya dahulu.

Seharus nya memberi contoh yang baik bagi kaulan muda malah menampakkan perilaku yang tidak berpendidik, sesuatu yang kontradiktif memang, tetapi bila melihat kondisi realita yang terjadi selama ini ada benarnya juga pernyataan ini, ada siswa sekolah sma yang bermodalkan ijazah paket C kemudian lulus di fekultas kedoktoran, lalu untuk apa harus mengikuti ujian UN..?

Seorang guru olah raga kemudian dianggkat menjadi camat, seorang Manteri diberi wewenang untuk mengurus pemerintahan, dan seterusnya begitulah yang terjadi, Petani diberi kampak, penebang kayu dikasih cangkul, penempatan seperti inilah yang kemudian dapat dikatakan sekolah atau pendidikan itu menjadi tidak penting.

Kadang koncoisme itu menjadi dominan dalam penentuan keberhasilan bagi mareka yang berlaku curang, Petimang Hana meoh Akhebut Mehmoh,

Kebanyakan kondisi ini terjadi setelah proses pilkada selesai, membagi-bagikan jabatan atau " Politik Balas Budi " Sifat ini akan cenderung tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya, maka tunggulah kehancuran akan datang.

Kesenjangan


Catatan ini ditulis karena ter inspirasi dari status facebook salah seorang teman yang menuliskan “ Lucu ketika ada banjir di wilayah barat selatan para politisi ( DPRA dan Pemerintah ) Selooo saja, tapi coba banjir di wilayah Brahdeh Roe Ie kupi manteng gabuk”. ( Lucu disaat musibah banjir melanda wilayah pantai barat selatan legislatif dan eksekutif tidak ada reaksi apa-apa, bila banjir terjadi wilayah timur, tumpah air kopi saja sibuk ).



Status ini ditulis pada saat musibah banjir melanda wilayah Nagan Raya dan Aceh Selatan, yang sering disebut Barat Selatan, sikap ini dapatlah kita pastikan sebagai kata sindiran oleh masyarakat pantai barat selatan terhadap pantai timur aceh yang notabene jauh lebih maju ketimbang wilayah pantai barat selatan aceh.

Sikap pemerintah yang tidak responsif terhadap masalah-masalah yang muncul diwilayah barat selatan aceh, yang melahirkan kecemburuan social, hal ini dapat saja memperparah isu pemekaran yang pernah di gulirkan sebagian masyarakat selama ini, secara tidak segaja pemerintah aceh juga telah memberi dukungan terhadap pemekaran itu.



Ketimpangan ini sangat membuka ruang terhadap wacana pemekaran provinsi aceh baru yang meliputi aceh barat selatan dan aceh loser antara, selayaknya pemerintah aceh dengan segera menyikapi persoalan ini dengan resposif dengan resolusi positif mencari jalan keluar demi terjaga keutuhan provinsi aceh.



Serta menjaga persatuan dan kesatuan aceh dimasa yang akan datang, membangun aceh di bawah pemerintahan Republik Indonesia, serta tetap mempertahankan suasana damai yang telah lahir. Aceh yang telah memperoleh kedamain ini tidak perlu terpancing dengan isu-isu murahan yang dapat menyeret aceh kepada konflik masa lalu.[ ]

Rindu Kaku



Masih saja kaku, meski rindu dipilir waktu, apa gunanya gemuruh berbelitan, bongkah awan menerbangkan harapan, jika hujan tidak jua datang dan gersang tetap saja mengeringkan ilalang. benar-benar fatamorgana yang hadir dengan janji-janji semu.

Semu, adakah kalian tau arti dari “ Semu” itulah tipu muslihat, tidak ubah genangan air dalam padang pasir, tampak indah memersona dari kejauhan, padahal itu hanyalah pantulah udara panas seolah-olah danau besar ditengah gurun gersang.

Begitu juga rindu yang kaku, tak ubah umpama pungguk hendak memeluk rembulan, dan tentu tidak akan ketemu antara dinding waktu rembulan dan dinding waktu sang pungguk.

Sang Rembulan yang memersona diujung angkasa sedangkan pungguk hanya memeram rindu dipucuk ketapang, persis “taceut bulen dengan ujong sadep ” Bencana pungguk, rindu yang tidak kesampaian.

Meski setia melewati malam kerena hanya tidak ingin melewati keindahan bulan purnama. tetap saja rindu pungguk tidak akan kesampaian, tetap saja tidak kesampaian. Pengorbanannya terjebak dalam “ Rindu Kaku ”

Laet lhok galah panek, troh taceugek, han troh taraba, Artinya : Laut dalam galah sejengkal, dapat dipandang tak dapat dijengkal, Karena adakala rindu rindu itu tidak harus "Terlunaskan " karena yang kita rindu adalah rindu kaku.

Uro Ma" Meu Gang


Beberapa hari sebelum puasa saya mendapat telpon dari ibu dikampung, tidak banyak perihala yang dibicarakan, ia hanya menanyakan apakah aku akan pulang pada hari meugang kali ini sesudah memastikan saya disini masih sehat-sehat saja.

Meugang na keuh saböh tradisi bak ureung Aceh yaitu saböh wate di awai puasa, uröe raya puasa deungön uröe raya haji. Tiep-tiep uröe meugang geusie Leumo atau keubee dan geu peublö keu ureung-ureung. Lam keluarga ureung Aceh lage na saböh kewajiban untuk blöe sie Leumo atauwa sie keubee wate uröe meugang.

Begitulah tradisi meugang yang sudah melekat dalam keseharian masyarakat aceh, belum lengkap merayakan meugang jika tidak membeli daging dan serta merayakan meugang bersama keluarga.

Uroe geut Bulen geut timphan mak peuget hana meutemeng rasa….!

Ungkapan seperti ini sering terdengar dari kalangan anak-anak muda aceh yang sedang berada jauh dari keluarga pada saat hari meungang, ini mengambarkan dimana kebersamaan pada hari meugang memang sangat dirindukan. sesibuk apapun mereka akan menyempatkan diri untuk pulang bersama keluarga.


Malaikat Kecil


Hari itu minggu segala aktivitas kantor dan perkuliahan libur begitu juga sekolah kami, beberapa hari yang lalu kawan-kawan sekolah antikorupsi aceh, telah membuat rencana jauh-jauh hari untuk berkunjung ke tempat salah seorang dewan sekolah dan juga merangkap sebagai coordinator GeRak Aceh.

Sebenarnya kunjungan ini tidak begitu penting jika hanya ingin mengunjungi dan bersilaturahmi dengan dewan sekolah saja, akan tetapi yang membuat pertemuan ini menjadi penting adalah berjumpa dengan sang anak beliau, sekaligus mengucapkan selamat siswa sekolah antikorupsi angkatan ke III atas kehadiran putra pertama Askal.

Inilah yang membuat kondisi ini istimewa sehingga harus menyusun waktu yang tepat untuk hanya ingin memengan gemas si anak itu, sebelum berangkat kami berkumpul dibathoh, tepatnya disekolah antikorupsi Aceh, bakda asyar secara bersama dengan mengedarai sepeda motor berangkat ke tempat bang askal.

Rencana ini sempat kami tunda beberapa kali, karena pertimbangan persiapan kami pada saat itu belum memadai, segala macam perlengkapan paralatan bayi tentunya, tarik ulur waktu selama ini, pada hari ini hajatan ini sudah dapat terpenuhi, meskipun alakada buah tangan dari hasil tetean kawan-kawan.

Untuk teman-teman siswa sekolah antikorupsi, terimakasih telah bagi kawan-kawan yang telah memberi sumbangsih dan yang spesial buat mereka-meraka dua srikandi pahlawan antikorupsi Nbak Irma Meutia, dan Nbak Rahayu Fujianti, dan juga penerus Teuku Umar, Arzuarlin Ketua kommunitas.

Suhendri Kepala sekolah antikorupsi, serta rekan-rekan Fauzul Husni, Imamuddin, Kamaruddin, Rizal, kalian semua berhak aku panggil pahlawan, dan selamat untuk bang Askalani atas kehadiran malaikat kecil, semoga menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, dan menjadi penerus perjuangan dalam menegakkan keadilan amin.

Pancuri


Apa yang ada dipikiran kalian ketika membaca kata “ Pencuri, atau dalam bahasa padang sering menyebutnya “ Pancelok”, dalam bahasa aceh menyebutnya “ Pencuri ’’ Dalam hukum kriminal, pencurian adalah pengambilan properti milik orang lain secara tidak sah tanpa seizin pemilik.



Kata ini juga digunakan sebagai sebutan informal untuk sejumlah kejatan terhadap properti orang lain. Seperti perampokan rumah, penggelapan, larseni, penjarahan, perampokan, pencurian toko, penipuan dan kadang pertukaran kriminal.



Dalam yurisdiksi tertentu, pencurian dianggap sama dengan larseni; sementara yang lain menyebutkan pencurian telah menggantikan larseni. Seseorang yang melakukan tindakan atau berkarir dalam pencurian disebut pencuri, dan tindakannya disebut mencuri.



Mari kita simak sebuah cuplikat sederhana dibawah ini..!



“ Yang pakek dasi nek penari gengse, careng ditepe nek, rakyat jelata, nacit pencuri nek tukang peh pale, tik peng dalam pangke bebah penjara ” Yang meukat ija nek pepanek mete, bohceng digese yang meukat saka, yang buta hete nek tameng peugawe lhom pangkai dile kana kereuja’’



Cuplikat diatas merupakan salah satu lirik lagu aceh, yang menceritakan tentang berbagai cara untuk mencuri, atau memgambil hak orang lain tanpa sepengetahuan ataupun tanpa ada izin dari pemiliknya, lebih layaknya bila kia mengartikanya dengan prilaku korup dalam berbagai lapisan masyarakat yang sudah menjadi membudaya dan wajar []

Membakar Emosi


Banda Aceh : Segala persiapan untuk bakar-bakar dimalam itu, tiga puluh ekor ikan tonggkol ditambah satu ekor ayam potong dan berbagai bumbu masakan sudah dipersiapkan semenjak siang tadi, malam itu semua siswa ( I ) Sekolah Antikorupsi Aceh berkumpul di kantor gerak dalam rangka mengikat silaturrahmi serta makan bersama dimalam itu.

Tentu bakar ikan menjadi menu utama, cerminan yang sederhana, setelah sekian bulan siswa anggkatan ketiga sekolah antikorupsi aceh, menjalankan proses belajar bersama, namun belum pernah melakukan hajatan seperti ini, walau pada setiap jum at malam ada kegiatan diskusi rutin antikorupsi warung kopi.

Acara itu semula berjalan diatas rencana, saya sendiri dipercayakan oleh kawan-kawan mejadi penanggung jawab dalam kegiatan ini, saya merasa senang dan bangga dengan reaktif kawan-kawan saling megambil peran dalam menyiapkan segala persiapan sampai pada akhir puncak makan-makan bersama.

Kebersamaan itu, betul-betul mencerminkan keakraban, kekompakan yang terlah dibangun sejak lama, sepanjang kami belajar disekolah antikorupsi, tentunya kebersamaan ini tidak luntur seiring berakhirnya sekolah, namun kebersamaan itu berlalu seiring lajunya malam, tiba-tiba tampa, mendung, tampa hujan, setelah prosesi makan-makan usai suasana berubah menjadi tegang.

Esensi emosi saya benar- benar sedang di uji, benar-benar naik drastis dimalam itu, aku tidak tahu semu kawan-kawan yang ku kenal ramah selama ini, mereka menyalahi saya tampa didukung dengan alasan yang kuat, aku terus membela diri, yang ku tahu tidak ada satupun dari mereka yang berpihak kepada saya.

Dan akupun tidak pernah menyangka, semua yang dilakukan mereka hanya kepuraan, kemudian baru aku mengerti, Suasana yang menengangkan itu ternyata ada hubungannya dengan beberapa hari yang lalu yaitu bertepatan dengan tanggal 20 maret. Tanggal kelahiran ku.

Kalian memang kawan-kawan yang jujur dalam hal lain, tapi begitu pandai dalam ber acting, secara spontan tampa ada scenario yang terencana. Rupanya mereka segaja memancing, sedikit membuat keruh suasana dimalam itu, hanya untuk membuat kejutan pada saat ulang tahun ku.

Ketika emosi saya sudah tidak terkendali “ Kata selamat ulang tahun ’’ pun keluar dari seorang teman dengan disambut bahak tawa semua rekan-rekan yang lain, dan saya masih bingung dengan semua itu, ini benar-benar kejadian yang konyol yang pernah kualami selama hidup. Jujur sebenarnya aku tidak suka dengan hal berlebihan dan evoria dalam merayaka hadiah tuhan ini, Karena bukan umur panjang yang patut kita nikmati melainkan bagaimana memamfaatkan setiap hembus nafas ini menjadi tasbih kepada allah subhanahuwataala. Terimakasih teman atas segala doanya, semoga kembersamaan ini terus terpelihara. Banda Aceh Sabtu 23 Maret 2013

Sinisme Politik



Banda Aceh : Senin siang selepas aku mengantar surat undangan acara seminar perkembangan perekonomian aceh, kepada beberapa Satuan kerja perangkat pemerintah aceh (SKPA ), lalu saya menuju kesuatu tempat rumah makan pecal diseputaran lamprit, mata hari pada hari tersebut memang sedang tarik-tariknya, panas membaca Kota Banda Aceh.

Oleh sebab itulah saya memilih tempat makan yang agak adem, kebetulan memang ditempat ini ditumbuhi pohon sari yang rindang untuk berteduh melepas penat, selepas makan saya segaja tidak lekas balik kekantor, ingin beberapa saat menikmati suasana teduh ditempat ini, tampa segaja datang seorang kawan lama, maksud kawan lama, karena memang sudah sangat sekian lama tidak pernah berjumpa.

Karena saya memang duduk sendiri, aku mempersilahkan ia duduk untuk bergabung satu meja dengan saya, diantara kami saling menyapa dan menanyakan keadaan satu sama lain awal dari obrolan ringan diatara kami, saya lebih menarik bertanya tentang keadaan dia, karena diantara kami betul-betul sudah lama tidak berjumpa, termasuk bagai mana kondisi perkembangan organasisasi yang kami bangun selama ini, salah satu wadah tempat yang menyatukan kami selama ini.

Saya sangat senang mendegar penjelasan dari nya, ia menjelaskan panjang lebar, ia begitu gampang menjelasan pertanyaan yang saya ajukan kepadanya, entah motivasi mana tiba-tiba arah pembicaraannya menyinggung soal politik, selama aku mengenalinya kata itu suatu ha yang ganjir, bahkan tidak pernah terdengar dari mulutnya, ia mengaitkan dengan kondisi ril politik yang terjadi diaceh belakangan ini.

Kita hampir tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah, yang benar adalah mereka saling membenarkan diri mereka sendiri, penghilangan terhadap Nyawa manusia pun menjadi pembenaran ketika itu politik benar-benar kacau timpanya, aku memahami maksud dari kata-katanya, ia mengkaitkannya dengan kondisi menjelang pemilihan anggota legislative 2014. dan tidak lepas dari penembakan terhadap salah seorang kader partai Nasional Aceh ( PNA ) di sigli.

Dengan sinisnya, ia juga menjelaskan keprihatinan terhadap organisasi yang sudah terkontamidasi dengan politi, “ Ketika suatu organisasi sudah berbaur dengan politik maka siap-siaplah menghadapi kehancuran dan menelan korban, itulah yang terjadi sekarang, tujuan tida lagi mencari ridha Allah, melainkan murka Allah SWT. Aku lebi memilih menjadi pendegar setia dalam sesi makan siang tampa terencana itu, disaat aku menangkap roma serius dari mimik mukanya.

Diasaat kondisi seperti ini tidak kondusif, carut marut, ketidak adilan, keserakahan, kesewenangan, memilih menjadi seorang pendidik adalah suatu hal yang terbaik, pada saat itulah aku kembali menangkap senyum dimulutnya. Aku kembali melihat ruman aslinya yang dulu, ramah dan bersahaja, Aku paham apa maksud dari omongannya, mungkin ini merupakan sebuah kebanggaan bagi nya kerena yang aku tau ia sedang menyelesaikan studi disalah satu perguruan tinggi keguruan ternama, dan tentunya tidak lama lagi akan menjadi seorang pendidik, seorang guru tentunya.

Disaat sekarang kita melakukan kebaikan untuk organisasi bersiaplah kita ditinggalkan, bersiaplah untuk tidak dihargai pengorbanan mu, karena itu adalah pengabdian, pertemuan yang begitu singkat, pria yang sempat juga menyamakan kondisi politik aceh sekarang dengan masa pemerinthan orde baru, pamitan dengan mengedarai sepeda motornya. dan saya pun kembali kekantor dengan membawa catatan singkat tidak penting ini. Banda Aceh 29 April 2014.




Kedamaian Abadi


Aku tidak percaya jika pada saat itu kau benar-benar pergi sungguh kami tidak begitu yakin, karena pada waktu itu kau pamitan hanya untuk memenuhi undangan khanduri di ujung kampung kita, ternyata maksud mu lain, jika kami tau, maksudmu pamitan mu pada saat itu sungguh kami tidak akan melepas mu dalam kegelapan malam itu, maafkan kami yang tida mampu membaca gelagat lain dibalik wajah tangguh mu.

Kami benar-benar anak-anak mu yang tidak mampu membaca jika pamit itu hanyalah bincang akhir melepas kepergian mu, sekali lagi sungguh jika kami tau ajal itu menjemputmu dimalam itu tidak akan kami biarkan kau pergi sendiri dan mendekap mu dalam pelukan, karena kami masih ingin menatap lamat-lamat seluruh tubuh mu, dan menghirup oroma tubuhmu, karena dengan keringat mu kami tumbuh dibesarkan.

Kau sederhana, yang selalu tampi apa adanya, bagi kami kau tangguh..

Ayah kami bangga pada mu, dengan segenap perjuangan untuk meyekolahkan kami, meski kau tidak pernah punya kesempatan indahnya licinya meja belajar disaat kecil mu, kau pahlawan kami disaat gerak masa kamu kenang.

Ayah sungguh kami rindu.

mengapa secepat itu. bukankah esok hari negeri kita akan " Damai " bukankah kau juga merindukan peluk hangat dari mereka teman-teman mu itu, dan jabat tangan erat, bukankah begitu ayah....?

Sungguh aku sudah keliru memaknai maksud mu, Damai dalam bentuk lain..!


Demokrasi dan Pembangunan







Aceh sedang mencari bentuk demokrasinya, setelah konflik yang berkepanjangan, belum lagi berbagai persoalan yang masih dalam proses seperti rekonsiliasi, proses penyelesaian pelanggaran HAM dan persoalan reintegrasi GAM ke sistem negara. Demokrasi memang memberikan ruang yang bebas bagi siapa saja untuk berkonstribusi dalam era yang demokratis tersebut, namun perlu diingat bahwa kekuatan politik lama seperti militer dan kekuatan politik dari Jakarta juga punya pengalaman lebih baik dalam hal bertarung dalam era yang demokratis dibandingkan dengan GAM atau kekuatan politik lokal di Aceh.

Untuk itu menjadi sangat penting memberikan batasan yang jelas tentang arah proses demokrasi di Aceh, demokrasi hanyalah alat untuk mencapai tujuan bersama, namun tujuan bersama itulah yang kemudian tidak bisa dipercayakan begitu saja pada sistem demokrasi yang masih balita dan belum teruji kesesuaiannya dengan kondisi obyektif di Aceh. Dalam merumuskan pembangunan sistem politik maka Lucian W. Pye memberikan beberapa karakter dan defenisi mengenai demokrasi dan pembangunan politik[1] serta relevansinya dengan indikator-indikator ekonomi :
Demokrasi sebagai prasyarat politik bagi pembangunan ekonomi,

konsep ini bermula dari paradigma yang menganggap bahwa untuk mendorong peningkatan kesejahteraan dalam hal ini penghasilan per kapita masyarakat maka politik dapat memainkan peranan penting. Konsep ini banyak digugat, sebab kondisi ekonomi bisa saja tumbuh dalam berbagai macam situasi politik, China dan Rusia contohnya. Selain itu di Indonesia Soeharto juga ternyata gagal menerapkan konsep ini, sebab akhirnya menghasilkan oligarki ekonomi dan politik sekaligus.
Demokrasi sebagai ciri khas kehidupan politik masyarakat industri.

Pye berpendapat bahwa ciri khas masyarakat industri adalah tindakan hati-hati terhadap hal yang mengancam kepentingan golongan elit, mereka meyakini sebuah batasan kedaulatan politik, penghargaan terhadap nilai-nilai tertib administrasi, prosedural, dan pengakuan bahwa politik adalah suatu mekanisme pemecahan masalah bukannya tujuan itu sendiri, penekanan pada program kemakmuran dan akhirnya kesediaan menerima suatu bentuk partisipasi massa. Karena itu demokrasi yang mirip seperti itu adalah ciri khas sistem politik masyarakat industri.
Demokrasi sebagai modernisasi politik.

Tradisi politik yang dianggap kuno adalah tradisi otoritarianisme, dan yang modern adalah zaman dimana partisipasi politik publik dihargai. Demokrasi dianggap menjadi partai politik sebagai institusi politik modern yang dalam proses politik harus melibatkan partisipasi publik secara luas, tidak didasarkan pada ideologi maupun etnis tersendiri.
Politik sebagai alat operasi dari suatu bangsa.

Dalam sudut pandang ini nasionalisme adalah hal yang cukup penting, namun tidak mencukupi dalam pembangunan politik. Sehingga tugas pembangunan politik di era demokrasi adalah menterjemahkan perasaan nasionalisme yang kabur dan tidak teratur menjadi suatu semangat kewarganegaraan, dan menciptakan lembaga-lembaga negara yang dapat menterjemahkan aspirasi-aspirasi nasionalisme dan kewarganegaraan ke dalam kebijakan dan program. Dalam konteks ini maka pembangunan politik dan demokrasi adalah pembinaan bangsa.
Politik sebagai alat menciptakan prosedur administrasi dan hukum.

Dalam masa transisi demokrasi, pembentukan birokrasi yang efektif harus memperoleh prioritas utama, selain itu pembangunan sistem birokrasi dan administrasi suatu daerah harus dikaitkan dengan penyebaran rasionalitas, penguatan konsep-konsep hukum dan peningkatan kemampuan teknis dan keahlian dalam proses pembangunan.
Demokrasi sebagai alat mobilisasi politik dan media partisipasi.

Pasca konflik, masyarakat yang selama ini hidup dalam kekangan rezim otoriter, tiba-tiba menemui diri mereka dalam sebuah kebangkitan politik dimana mereka menjadi warganegara aktif dan cenderung patriotis. Sehingga rangkaian demonstrasi dan pengerahan massa akan menjadi sebuah fenomena tersendiri pasca konflik. Sehingga untuk itu proses demokrasi dan pembangunan politik kemudian harus meliputi perluasan partisipasi massa, dan akomodatif terhadap keinginan publik, sehingga masyarakat kemudian bisa dijauhkan dari emosionalisme, anarkisme dan demagogi yang membahayakan proses demokrasi. Untuk itu perluasan partisipasi politik dalam arti yang sebenarnya harus diakomodir, mulai dari penyusunan kebijakan hingga implementasi dan pengawasan terhadap program pembangunan, sebab biar bagaimanapun partisipasi adalah sarana untuk menciptakan kesetiaan baru dan membangun perasaan identitas Aceh yang baru.
Pembangunan Politik dan pembinaan nilai-nilai demokrasi.

Dalam konteks ini wacana demokrasi yang didominasi oleh nilai-nilai barat sering menjadi kendala dalam melakukan proses pembangunan politik. Terkadang pengenalan terhadap nilai demokrasi justru menghambat proses pembangunan politik, sebab masyarakat yang sudah terbiasa dalam sistem politik otoriter ditambah lagi dengan nilai-nilai yang sudah lama dianut oleh bangsa tertentu yang tidak sepenuhnya demokratis. Dalam konteks Aceh sangat dibutuhkan pengkajian mendalam tentang nilai-nilai demokrasi dan nilai-nilai yang dianut masyarakat sehingga kemudian tidak terjadi kontradiksi antagonistik antar nilai, namun jaminan bahwa hasil kajian tersebut tidak akan mereduksi nilai-nilai kebebasan masyarakat sipil sangat dibutuhkan demi keberlanjutan proses transisi ke arah demokrasi.
Politik, stabilitas dan transformasi.

Wilayah ini merupakan wilayah yang sangat sulit untuk diimplementasikan, menghubungkan antara stabilitas di satu sisi dengan transformasi disisi lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Stabilitas selalu berhubungan dengan stagnasi politik dan kontrol ketertiban umum dari negara, sehingga untuk membayangkan pembangunan dalam kontrol otoriter negara menjadi sebuah kemustahilan. Namun juga tidak bisa dipungkiri bahwa setiap kemajuan ekonomi dan sosial umumnya tergantung pada sistem yang lebih banyak menawarkan kepastian dan yang memungkinkan perencanaan yang berdasar pada angka-angka prediksi yang cukup aman dan stabil. Dalam konteks Aceh, pertanyaan mendasar memang perlu diajukan, seberapa besar indikator ketertiban atau stabilitas yang dibutuhkan? Kemudian kemana transformasi akan di arahkan, sehingga semua pihak kemudian menjadi bisa menerima argumentasi-argumentasi yang berkaitan dengan kebutuhan akan stabilitas dan ketertiban, sebab pada saat itu semua pihak mengerti kemana mereka akan menuju.
Politik sebagai kekuasaan dan mobilisasi sumber daya.

Sistem yang demokratis lebih berhasil memobilisasi seluruh potensi sumberdaya di dalam teritorinya, baik itu sumber daya manusia maupun alam, dibandingkan dengan sistem negara totaliter dan otoriter. Masalah sebenarnya tinggal bagaimana meraih dukungan publik, hal ini bukan mutlak berarti bahwa hanya sistem demokrasi yang mampu seperti itu, tapi lebih pada bahwa sistem yang demokratis lebih mampu meraih dukungan dari banyak pihak karena demokrasi sejatinya mengakomodir kepentingan semua pihak, sehingga dukungan dari banyak pihak itu kemudian mampu mewujudkan tingkat mobilisasi kekuasaan yang tinggi. Indikatornya bisa dilihat dari jumlah dan pengharuh media massa, kesediaan membayar pajak, distribusi kewenangan, kontrol terhadap sistem, dan proporsi anggaran untuk pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial.
Pembangunan politik sebagai proses perubahan sosial multidimensi.

Dalam pembangunan sistem politik yang demokratis, kebutuhan nyata akan asumsi-asumsi teoritis sebagai pedoman dalam memilih prioritas pembangunan membawa kita pada kesimpulan bahwa pembangunan politik sangat punya relasi terhadap indikator sosial dan kemajuan ekonomi, meskipun secara terbatas politik bisa dipisahkan dari beberapa segi kehidupan sosial masyarakat namun pembangunan politik hanya bisa berjalan dalam bingkai perubahan sosial yang multidimensional, dimana tidak ada sebagian atau sekolompok masyarakat yang tertinggal terlalu jauh oleh perubahan. Di titik ini kita akan menemukan bagaimana persoalan keamanan, pembangunan politik yang demokratis dan indikator-indikator ekonomi dan sosial saling berkaitan satu sama lainnya.




[1] Lucian W. Pye, “Aspects of Political Development”, Litle, Brown & Company, 1966


Ketengan di rumah Tuhan


Pada sore itu dengan mengedarai sepeda motor Honda Supra keluaran tahun 1998 yang biasa aku pakai untuk berpergian kemana-kemana dalam beraktivitas sehari-hari selama dibanda aceh maklum masih kere...

Hari itu kembali aku tarik gasnya sembari bersila, dengan kecepatan 60, M dengan melewati jalur jalan panglima polem ( Penayong ) menuju simpang lima terus berputar megambil jalur menaiki jembatan panti pirak, melewati sekber wartawan.

Stang sepeda motor itu kembali ku tarik berbelok kanan dan memasuki pariran mesjid raya Baiturrahman, inilah mesjid kebanggaan kami Bumi Iskandar Muda, aku titipkan sepeda motor kebanggaan ku itu pada seorang tukang jaga parkir sembari menyodorkan serogoh kertas kecil nomor parkiran.

Pada saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 lantunan ayat suci Al Qur an menggema diatas menara mesjid itu, kaki ku terus menapaki jalan kecil yang dilapisi papin blog yang menjurus ketempat wuzhuk sebelah utara mesjid.

Ini merupakan kedua kalinya aku hadir sholat berjamaah di Mesjid Raya Baiturrahman ini diawal-awal tahun 2013, sebenarnya saya sangat menyenangi sholat berjaah di mesjid megah ini, namun dikarenakan tempat tinggal ku yang tidak berdekatan membuat ku memilih mesjid terdekat untuk menunaikan sholat berjamaah.

Taukah kalian mengapa aku memilih sholat berjaah ditempat ini meskipun jauh, pengalaman pribadi. Keteduhan hati, disaat memanjakan diri ditempat ini, segala penat dan masalah yang ada serasa hilang seketika.

inilah cerita dan cara ku mengisi hari, disaat perasaat tidak menentu, aktivitas ini menjadi rutinitas yang aku anggap sebagai wisata islami, Meski begini, alangkah indahnya lagi dunia ini jika ia hadir bersama ku disini, megucap tasbih memuji mu Tuhan....!

Selasa 15 Januari 2013

" 48 Jam di Tanah Kelahiran ”

Nagan Raya Sabtu 25 Mei 2013, keberaan saya dirumah tercinta ini merupakan untuk perayaan penyambutan kelahiran sang malaikat kecil kami, keluarga baru kami anak pertama dari pada Cut Nelli Mariana, dirumah inilah kami dulu dilahirkan dan pertama sekali menginjakkan kaki dengan tanah, tentu tanah kelahiran kami dan juga penerus dari kami, ditempat ini juga kami dulu dibesarkan.

Acara cukuran itu berlangsung pada hari sabtu, jumat malam, saya dengan mengendarai mobil L300 berangkat dari Banda Aceh pulang ke Nagan, meskipun ada sedikit masalah dengan gigiku pada waktu itu, mengalami pembenggkakan gusi yang sangat luar biasa menyiksa, namun demi melunaskan rasa rindu kepada keluarga dan terutama malaikat kecil kami Habil.

Lebih kurang jam sepuluh malam saya dan beberapa orang lain yang berada dalam satu mobil itu berangkat menuju Nagan Raya, sepanjang jalan gigi saya terus berdeyut tampa henti seperti mobil yang terus berderu kencang, pukul 24 00 kami tiba di lamno, tepatnya dikaki gunung Geurute sang sopir menghentikan mobilnya, ia minta waktu sebentar buat makan katanya dari siang ia belum makan serta memesan secankir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk.

Siap makan, sang sopir kembali menekan gas mobilnya, ini sopir andalan kami yang sudah lama aku kenal di kampung dulu, Alhamdulillah pukul 04 pagi saya sampai dirumah dengan selamat, ternyata dirumah ada yang sudah bangun dan ada yang tidak tidur sama sekali, mereka mempersiapkan segala keperluan untuk acara esok, ibu yang sering kami panggil Nyak, menyambut saya didepan pintu, lansung menanyakan gigi saya yang sakit. Sebelumnya memang sudah saya beri tehu bahwa beberapa hari ini gigi saya kambuh dan sering menelpon beliau untuk sekedar menyakan obat kepadanya.

Terus aku mesuk kedalam dan menyalami beberapa keluarga disana yang sudah pada siap menunaikan sholat subuh dipagi itu, aku dapati juga Fatimah, keponakan saya anak tertua dari pada Cut Herni dan Imam Fuadi adik saya, makin gemuk saja dia, memang selera makanya tinggi hingga membuat badannya makin besar bila dilihat memang tidak begitu sepadan dengan seumuran dia yang masih duduk di bangku sekolah TK dan sangat berbeda dengan adiknya Ahmad Yasil.

Aku menyisir setiap kamar rumah itu, ternyata rame juga dirumah malam itu, ada juga dari beberapa keluarga dari Meulaboh, mereka sudah berkumpul lebih awal, tapi mesih bergulut dengan mimpi, hanya Fatimah yang bangun mendegar kepulangan saya makanya ia terbangun, apa lagi kalau bukan mengharapkan ole-ole pesanannya, dengan agak malu-malu kucing gitu, ini memang kebiasaannya jika masih baru-baru begini. Beberapa saat Nyak menyodorkan Obat sakit gigi, entah dari mana daun yang sudah dihaluskan itu ia dapatkan dimalam yang masih buta begini, memang ibu, apapun ia akan lakukan demi anak-anaknya.

Aku menempelkan obat itu dipipi yang bengkak dan merebahkan diri tidur sejenak, lebih kurang pukul 07 pagi saya bangun di luar sudah rame rupanyan, saya pun merasakan sudah ada baikan dengan gigi saya meski masih terasa bengkak dipipi, lekas mandi dan mengantikan banju, dan membantu mempersiapkan segala macam perlengkapan untuk acara syukuran itu.

Acara Peucicap itu berlangsung sempurna tampa ada kendala, hal ini tidak lepas dari kontribusi sanak family dan warga kampung kami, acara tradisi seperti ini memang sudah lama terbangun dalam masyarakat, bahu membahu saling membantu diketika ada acara dalam kampung, atau sering diistilahkan warga dengan Meu urub,dan begitulah seterusnya.

Sangat menyenangkan disaat berada di tengah-tengah mereka sekeluarga dan kawan sepermainan diwaktu kecil dulu, bagi saya tidak ada keistimewaan selain berada didekat mereka, walau hanya sesaat, sabtu malam saya menghabiskan waktu bersama teman-teman lam, berdiskusi ringan seputar perkembangan kampung dan kuliah masing, pada minggu pagi aku menghabiskan waktu bersama anak-anak, mereka keponakan saya yang lucu-lucu, minggu sore saya mengunjugi pemakaman umun kampung tempat dimana armahumah ibu saya dimakamkan, juga keluarga lainya. Inilah aktifitas saya keberadaan saya di kampung kali ini dan malamnya saya kembali ke Banda Aceh, dengan membawa potonga cerita ini.

Jumat, 13 Desember 2013

Dilema



Di malam-malam yang resah...
Malam-malam yang terasa lebih panjang....
Karena helaan nafas yang tertahan... 

Hati ini kembali tercabik oleh rasa bimbang yang berlebihan, perasaan itu kembali mengebuk hati, tampa ampun sedikitpun, badan  terlanjur lelah menghadapi teka-teki, dengan drama yang tidak pernah aku pahami,
Selain memilih Berdoa...doa.. doa..dan.. doa.. Disetiap aliran waktu, agar rasa cinta itu senantiasa jatuh kepada orang yang tepat, yang dapat menerima apa adanya, tentu yang mampu membimbing , selalu berada dijalannya, jalan yang diridhai tuhan ku. 

Meski begitu, perasaan itu tetap saja tidak mampu memisahkan mana cinta hakiki, mana cinta yang dirasuki nafsu birahi, tidak mampu menjelaskannya, yang jelas perasaan itu telah hadir dalam diri, rasa cinta yang terkadang membawa kesengsaraan, sungguh sesuatu yang tidak diterima oleh akal. 

Rasa cinta yang tidak mampu diurai dengan ungkapa, karena lidah terlanjur kaku untuk menjelaskan tentang rasa yang mengangga, sungguh tidak mampu, karena hati masih sangat ragu dengan perasaan itu.

Rasa cinta pada seseorang, lalu dibaringi oleh seseorang yang selalu mengajak pada jalan tuhan, Namun perasaan ini tidak pernah untuknya, namun ia selalu menunggu kehadiran, menjadi imam disetiap sholatnya, Cerita silam tentang hati yang dibayagi dua perempuan, karena  aku tidak ingin cinta ini jatuh ke Jurang.... 

Banda Aceh 19 Januari 2013

Aceh Diantara Mata Air dan Berairmata.

Semenjak  tahun 2008 sampai dengan 2013, Aceh mengelola dana otonomi khusus (Otsus) sebesar Rp 27,3 triliun. hal ini menempatkan aceh di urutan ketujuh Indonesia, yang pendapatan perkapitanya terbesar.
"dan dana tersebut (otsus) akan terus diterima Aceh sampai tahun 2027 nanti,  dengan perkiraan jumlah total sekitar Rp 100 triliun. dana tersebut setiap tahun nya terus naik, dimana Pada  2008 Otsus yang diterima Aceh sebesar Rp 3,5 triun, kemudian menjadi Rp 3,7 triliun (2009), Rp 3,8 triliun (2010), Rp 4,5 triliun (2011), Rp 5,4 triliun (2012) dan menjadi Rp 6,2 triliun pada tahun ini.
Kondisi Pendidikan 
Meski demikian, mutu pendidikan di Aceh tergolong rendah. Hal ini terjadi karena kebijakan anggaran pendidikan di Aceh belum berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan, melainkan baru sekadar berorientasi pembangunan fisik.
Aceh merupakan salah satu daerah yang mempunyai belanja pendidikan per kapita tertinggi di Indonesia. Menduduki ranking keempat dengan anggaran per kapita Rp 1,2 juta. Ranking pertama ditempati Papua Barat. Sementara rata-rata belanja pendidikan per kapita Indonesia adalah Rp 935.000.
Tahun 2011, total belanja pemerintah untuk sektor pendidikan di Aceh secara nominal terhitung sebesar Rp 4,3 triliun. Jumlah itu meningkat dua kali lipat dari tahun 2007, yang terhitung sebesar Rp 2,1 triliun. Pada tahun 2012 tercatat Rp 3,9 triliun.
Besarnya anggaran tersebut memungkinkan bagi Aceh untuk memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai. Pada tahun 2012, Secara keseluruhan, daya tampung siswa rata-rata perkelas di Aceh terhitung sebanyak 26 siswa, jauh lebih tinggi dari standar pelayanan minimal yang disyaratkan, 32 siswa per kelas. "Jarak tempuh ke sekolah dari permukiman juga lebih baik dari standar nasional.
Namun, besarnya belanja pendidikan dan ketersediaan sarana yang baik belum searah dengan hasil capaian mutu dari pendidikan. Secara umum, beberapa indikator mutu, seperti akreditasi sekolah, mutu guru masih kurang baik dan tingkat kelulusan siswa.
Ada sekitar 30 persen sekolah di Aceh yang belum terakreditasi dan hanya 1 dari 5 orang guru di semua jenjang pendidikan yang bersertifikasi. Jumlah guru di Aceh sekitar 117,978 orang.  Kualitas guru di Aceh berada pada peringkat ke-28 nasional.
Mutu kelulusan siswa, Aceh juga masih berada di bawah rata-rata nasional. Mengacu pada nilai rata-rata SMPTN kelompok IPA, Aceh menduduki peringkat ke-33 secara nasional (nilai 44,86), sedangkan kelompok IPS di peringkat ke-25 (nilai 43,19).
Kesehatan Aceh
Anggaran belanja kesehatan di Aceh cenderung meningkat. Tahun 2012, total belanja kesehatan di seluruh Aceh (provinsi dan kabupaten/kota) meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun 2005. Tetapi, besarnya anggaran ini masih belum disertai pencapaian beberapa indikator kesehatan yang lebih baik.
Beberapa tantangan sektor kesehatan di antaranya angka kematian ibu masih tinggi--pada tahun 2011 tercatat 158 per 100 ribu kelahiran hidup (KH). Sedangkan nasional menargetkan 112 per 100 ribu KH pada tahun 2014. Masalah lainnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana serta sumber daya tenaga kesehatan yang belum mencukupi dan terdistribusi secara merata di Aceh.
Kondisi kesehatan seperti ini disebabkan oleh masih bertumpu pada belanja kuratif (penyembuhan) daripada preventif (pencegahan). Belanja kuratif mendapat anggaran yang besar dalam tiga tahun terakhir.
Pada tahun 2012, anggaran kesehatan untuk upaya kuratif mencapai 64 persen dari total anggaran Provinsi Aceh untuk bidang kesehatan, yang mencapai Rp 931 miliar. "Sedangkan untuk preventif hanya 4 persen
Tren membesarnya upaya kuratif dimulai sejak 2010, saat program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dimulai. Sebelumnya, pada tahun 2007, anggaran kesehatan untuk kuratif hanya 37 persen. Anggaran untuk preventif di Provinsi Aceh hingga tahun 2012 masih jauh di bawah angka surve sebesar 30 persen, seperti yang dipublikasikan oleh Pusdiklat Aparatur Kementerian Kesehatan.
Besarnya belanja kuratif dikhawatirkan akan membuat beban anggaran semakin berat dalam jangka panjang. Karena upaya preventif atau penyembuhan lebih murah dari pengobatan.