Sabtu, 15 Februari 2014

" Tikus yang menyebalkan "

unduhan (1)
Sumber Gambar dari Google.com


Tikus yang menyebalkan..! mau tahu ceritanya kekgimana mari simak perihalnya berikut ini, Malam itu jarum jam suda menunjukkan pukul dua dini hari, sudah pagi memang, dimana para Nyak- nyak pedagang sayur dipasar penayong itu sudah mulai beraktifitas kembali setelah beberapa jam dibuai mimpi, bagi mareka hidup ini tidak cukup dengan hanya bermimpi tampa ada gerakan yang berarti, meski harus bangun pada dinihari untuk mengapai mimpinya itu.

Yang ingin saya sampaikan adalah ada kegigihan dari raut wajah mereka yang amat luarbiasa, Sedangkan saya baru pulang dari warung kopi, meski kelihatan berwajah renta, namun semangat mareka masih tergolong muda, itu hanya kesimpulan saya yang saya ambil, secara kebetulan melintasi daerah itu pada saat pulang kerumah malam itu.

Sampai dirumah aku jambangi kamar , dimana tempat biasa saya melepaskan lelah setelah warung kopi, kamar sedikit berantakan kerena dipenuhi serakan baju kotor serta tumpukan buku yang tidak tertata, kamar sebagai tempat rehat ini boleh dikatakan sudah beralih fungsi menjadi kapal pecah diterba baidai, begitulah kira-kira, ah biarpun begitu aku tidak terlalu bernafsu untuk membersihkannya aku biarkan semua ini berantakan. biasa kamar anek muda.

Sebelum merebahkan diri merikuk dibalik selimut, saya melaksanakan sholat malam dua raka" at, dan ini marupakan rutinitas baru selama bulan suci ramadha mumpung ada kesempatan, bukan alim dan jangan digolongkan sok alim hanya menjalankan aji mumpung, memamfaatkan waktu saja.hehee.

Senyap sunyi, begitulah tabiat malam pada jam demikian itu waktu yang tepat mengadu segala perkara kepada tuhan, pada saat itupula aku dapati sesosok makluk yang dinamai tikus sedang melata mengitari sudut-sudut kamar, entah dari mana mahkluk itu muncul yang jelas ia telah menggagu konsentrasi.

Doapun tidak lagi focus semua pemikiran kini tertuju pada makluk melata itu yang sedang keluar masuk tumpukan buku dan sesekali bersembunyi dibalik tumpukan baju kotor disudut kamar, dengan riangnya tikus itu mencari Sesutu, seakan tidak ada siapa yang sedang memerhatikanya seolah dialah pemilik sah kamar ini. sial. tidak tau diuntung kau tikus.

Aku juga mendapati kurma yang masi tersisa pada saat berbuka, sekarang juga habis tampa tersisa, dasar tikus tidak tau diri didepan pemilik kamar saja  dengan santainya mengendus seisi kamar. Ini cerita tikus yang secara diam-diam memasuki kamar saya. tampa sepengetahuan, lalu ia membuat sesukanya.

Cerita tikus memang seakan tidak pernah usai, konon lagi jika kita menelisik tikus-tikus yang berdasi yang mendiami gedung-gedung besar. Yang konon katanya suka mencuri uang Negara yang dibayar oleh rakyat melalui  pajak. 

Tikus – tikus ini tidak hanya berdandan necis malah ada yang bertopi haji lo, melainkan juga pintar-pintar kerena memang mereka dilahirkan dari kaum-kaum terpelajar, pertanyaannya mengapa mereka mencuri, lah itu karena intergritas mereka kurang, mungkin saja mata mereka telah dibutakan oleh uang. Buktinya tidak sedikit dari mareka telah bergelar guru besar.

Inilah realita negeri kita, manusianya lebih suka bersembunyi dibalik jubah embel-embel agamis menyubarkan ayat-ayat tuhan, tapi perbuatan terkadang bertolak belakang dengan ajaran tuhan. semoga kita tidak tergolong  dalam lingkaran tikus yang menyebalkan itu.

Kamis, 06 Februari 2014

"Retak"


Temaram yang telah mengaburkan pandang

Lekang, yang melemahkan ikatan persaudaraan

Retak yang merengut ke utuhan

Begis yang telah melunturkan kebaikan

Pertikaian mengusik kedamaian

Perbedaan memudarkan senyuman

Berperang hanya kerena tidak sepaham

Dor..dor.. dor... dor ...





Selasa, 04 Februari 2014

" Menakar Ancaman Sang Bupati "

Dok Harian Serambi Indonesia


Teuku Zulfikar lips service only,not in fact....almarhum pak suhartoe pun pwrnah mengeluarkan instruksi seperti itu di masa zamanya berkuasa....itu bahasa politis bkn bahasa hukum,krn yg memberikan instruksi pejabat politis,bukan pejabat hukum......ya biasalah itu..... tapi bagaimanapun jg mari kt lihat dari sisi positifnya.....setidaknya sdh ada instruksi tersurat......


Begitulah bunyi cuplicat sebuah komentar  yang dilontarkan Teuku Zulfikar di forum diskusi politik sehat nagan, menanggapi ancaman pecat sang bupati terhadap pengawai negeri sipil yang terlibat dalam politik praktis pada pemilihan legislatif bulan empat mendatang, kliping koran yang di unggah sang pengelola akun, mendapat hujaman komentar yang beragam. tergantung dari cara padang masing-masing, layaknya, begitulah fitrahnya manusia.

Saya pribadi sependapat dengan pernyataan diatas, penyampaian bupati itu adalah bahasa politik bukan bahasa hukum dan yang memberikan instruksi merupakan penjabat politik bukan penjabat hukum, meski seburuk apapun anggapan orang terhadap politik itu, ruhnya politik adalah " Kebijaksanaan", awal dari tujuan berpolitik adalah keadilan, kebijaksanaan dalam bepolitik sangat penting diperhatikan.

Kalau boleh sedikit berasumsi, arah pijak sang bupati tepat berada pada posisi  yang sangat krusial, dilema tingkat tinggi ( DTT), jika melakukan tindakan terhadap pegawai yang terlibat politik praktis, sama saja sang bupati melakukan politik harakiri ( Bunuh diri ), sebab bila mengacu pada salah seorang warga nagan raya pernah menulis statusnya pada akun facebook nya Via BB, tertanggal 30 januari 2014, berikut kutipannya..!

luar biasa sekali di Nagan Raya. Setiap rumah kepala dinas ada baliho salah seorang Caleg yg tak lain adalah istri kepala daerah tsb" !!!

Jika pengarahan para kepala dinas seperti ini benar adanya, lalu apa, dan kepada siapa muara arah acaman sang bupati..? mari kita simak sebuah kometar satu ini, yang dilontarkan Darwis.

Darwis Lhok Pange, Kecuali untuk partai golkar,, termasuk keuchik sudah dikasih tugas tambahan pasang baliho Golkar dan atribut lainya.!

Komentar ini sangat jelas menyiratkan "ultimatum" sang bupati tersebut ada "pengecualian" artinya tidak berlaku kepada semua PNS yang terlibat dalam politik praktis, boleh dibilang, tindakan pemecatan hanya tertuju kepada PNS yang berseberangan dengan sang pengambil perintah.

Semoga saja asumsi seperti ini tidak benar, Diera sistem pileg proporsional dan suara terbanyak, dimana persaingan tidak hanya dengan partai lain tetapi sesama satu partai saling sikat,  rasanya sangat mustahil sang bupati megambil kebijakan " Hara kiri " yang secara kalkulatif jelas-jelas merugikan pihaknya, apalagi yang akan maju sebagai  caleg sang istri. 

Kembali kepada komentar Teuku Zulfikar, yang disampaikan bupati adalah bahasa politik, bukan bahasa hukum, dan yang menyampaikan penjabat politik bukan penjabat hukum, walau bagaimapun tidak boleh juga menyelekan keadilan seperti apa komentar Anton Parlente.

Anton Parlente Kalau undang-undang tegas mengatur PNS tidak boleh berpolitik praktis, maka aturan itu harus berlaku bagi siapa pun, tidak pandang bulu.

Maka saya berkesimpulan ancaman bupati itu " Diantara kemunafikan dan kebijaksanaan". bila beliau benar-benar menindak para pegawai negeri yang kedapatan terlibat dalam politik praktis, beliau berada pada posisi kebijaksaan dan jika tidak, maka sebaliknyalah yang terjadi.