Rabu, 18 April 2012

“ Seratus Delapan Puluh Menit Menjid Raya Baiturrahman menjadi Eskaped Building ”


Oleh : T.Hendra Keumala Alamsyah

Suara Serene meraung – raung dari kejauhan, geuma azan di kumandangkan di mana mana, dalam sekejab ratusan warga Banda Aceh tumpah ruah memadati perkarangan  mesjid raya baiturrahman.

Nurhasanah Seorang ibu rumah tangga berlarian tertatih – tatih, tanganya menggengam erat kedua putri nya, isak tangis yang tersendu - sendu membuat seisi perkarangan berhamburan masuk kedalam mesjid, tak sadarkan diri, ada yang sudah menaiki pagar pembatas teras mesjid, semua orang panik pada hari itu, di tambah lagi suara teriak tsunami.

Biasanya, mesjid nan megah itu, di ramaikan orang – orang yang melakukan kegiatan keagamaan, baik sholat, maulid, hari raya, dan kegiatan keamaan lainya, menjelang sore itu, jarum jam menujukan pukul 15: 45, ruas perkarangan mesjid kembali di sesaki warga yang sedang dalam kepanikan yang luar biasa.

Rabu 11 april 2012 serambi mekah kembali di guncangkan gempa, Rakyat Aceh baru saja menyelesaikan hajatan pesta demokrasi lima tahunan, “ Tak pernah kita sangka dan kita duga, disaat rakyat aceh sedang menikmati kemenagan pemilu kada, yang kuasa kembali menegur kita ” kisah hendri mahasiswa tarbiyah IAIN Ar-Raniry, yang juga sedang duduk dalam gelisah di teras mesjid raya baiturahman.

Gempa yang berkekuatan 8,5 skala ricter itu tidak hanya membuat panik seisi kota, akantetapi juga telah membuat ruas – ruas jalan berdesakan serabutan, tak lagi mehairaukan rambu – rambu jalan, deraian butiran air mata pun mehiasi wajah sedih warga.

Menurut catatan BMKG, pulau simeulue titik pusat terjadinya gempa itu berada, wilayah barat aceh sumatra, jarigan Hp ikut terputus seketika, membuat warga makin resah tak terkira, saat sedang mehubungi keluarga.

Suara kegaduhan terdegar dari dalam mejid, tak henti, degum orang membaca al qur an bersahutan, bak sedang ada perlombaan tarik suara, ratusan warga, baik lelaki, wanita, tua, muda, mulut mereka terus menyerukan tasbih menyebut tuhan yang Esa.

Hati menciut ketakutan, mereka lari menyelamatakan diri dari ancaman tsunami, “ Kamo temakeot di meusu sereune tsunaminyan, kamo pike ka di eik ie lom, makajih kamo plung keno, pesahodro bak mesjid raya ” ( kami takut ada suara alaram tsunami, kami pikir air naik lagi, makanya kami lari kesini merapatkan diri ke mesjit raya ) jelas Eva Nadya yang baru saja lari dari surin.

Riak kecil air kolam yang berada di depan mesjid awal dari gempa susulan, panik kembali melintang, seakan maut sedang mengintai merengut siapa saja yang ada di sana, beberapa pohon hasan menjadi pegangan bagi mereka.

Teriak tsunami kembali terdengar dari kejauhan, kocar kacir warga membuat skurity mesjid lansung mengambil sikap nya, “ Tidak ada tsunami, kita baru saja di komfirmasi dari pemantau pantai ule lee, tidak ada tanda – tanda akan terjadi tsunami, jadi kami minta pada warga jangan panik” sambil merapatkan toa di mulutnya.

Jengkel dengan ulah orang – orang yang tidak bertanggung jawab “ so yang pegah tsunami nepoh ju keudeh ” siapa yang teriak mengatakan tsunami pukul saja, sambung nya dengan logat aceh rayek, kilat camera para wartawan terus mehujati orang – orang yang ada di sana, dari berbagai media mengabadikan sesen demi sesen kejadian haru dan menegangkan itu.

Senin, 09 April 2012

Menyenangkan Jadi Hendra Keumala

Mungkin sifat saya tidak seperti kebanyakan teman-teman yang lain, yang punya banyak argumen tak kala dalam mendiskusikan sesuatu atau dalam menjalani kehidupan. bawaan saya hari-hari lebih banyak diam atau lebih tepatnya banyak mendengarkan percakapan orang ketimbang bercakap-cakap, sepintas saya juga hal ini juga daya peroleh dari pendapat orang sekeliling saya yang mengatakan saya ini tipe nya pendiam, inilah karakter saya sebenarnya.

Prinsip yang tidak mau diganggu dan menganggu ketenagan orang lain, prinsip ini telah terbangun Semenjak disekolah dasar, karena sudah menjadi prinsip mungkin hal ini masih terjaga sampai sekarang. Lah tiba-tiba sangat mengegerkan, membuat saya terkejut sangat mengesankan dengan pengalaman yang baru saya alami ini, ceritanya begini, dua minggu terakhir saya mendapat tugas Survey terhadap pengelolaan dana BOS dan BOSDA dari sekolah antikorupsi aceh, untuk wilayah Kota Banda Aceh.

Survey ini merupakan untuk memenuhi tugas akhir dari sekolah anti korupsi aceh, Enumerator yang dibagi menjadi lima kelompok, kebetulan oleh rekan-rekan  saya dipercayakan untuk menjadi ketua kelompok 02 untuk menkoordinir  Tim.

Pada senin pagi aktivitas kami untuk mendatangi sekolah-sekolah tujuan untuk menggali informasi dari sekolah kembali kami jalani, misi kali ini tim menjadi berkurang dikarenakan Mitro dan Hasanuddin tidak dapat bergabung karena haru memenuhi jam kuliah pagi.

dan hanya saya dan Rahayu yang dapat meneruskan misi kali ini, setelah sebelumnya menyepakati untuk mendatangi Salah satu SD negeri yang berada di lamlagang yang juga memiliki status SD percontohan yang banyak diisi oleh anak-anak mereka yang memiliki pendapatan ekonomin menegah keatas.

Seperti biasa berprilaku layaknya tamu yang datang ketempat orang, sedikit berbasa basi sambil memperkenalkan diri serta menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami tersebut ini.
Selepas berbasa basi, dari pihak sekolah menyambut baik kedatangan kami disini, artinya kami berhasil meyakinkan mereka bahwa kedatangan kami kesini dengan tujuan mulia, niat baik menjalin silaturrahim, sepantasnya juga disambut dengan baik pula, walau ada sedikit "tegang", begitulah yang kami tangkap dari raut wajah  pahlawan tampa jasa yang ada ditempat itu.

Tidak kenal maka tak sayang, begitulah sebuah petuah lama bertutur, yang masih tetap saja relevan disepanjang jaman, kekeluargaan terbangun setelah diantara kami saling memperkenalkan diri, wawancarapun menjadi lancar data-data yang kami butuhkan kami dapat dengan mudah, tidak ada kesan sesuatu yang ditutupi.

Selepas mewawancarai diantara kami sudah bersiap-siap pamitan untuk pulang, dengan penuh keyakinan dengan intonasi ringan ibuk kepala mengeluarkan pertanyaan.
Ini hendra  kan.?
iya.. jawab saya..!
hendra yang selama ini sering sms saya menanyakan dana Bos itu kan...?
karena merasa tidak pernah menghubungi beliau spontan saja saya menjawab
" Bukan ".. nama saya Hendra Keumala, ..!
Ini pakek keumala - Keumala nya juga..! Ia sering menanyakan tentang pengelolaan dana bos di sekolah kita ini.
Apa ia menyebutkan dari lembaga mana, terus kapan kejadiannya..? telisik saya pena saran.
Dari Lembaga Anti Korupsi juga, katanya, tapi kejadiannya sudah setahun yang lalu..
Wah... setahun yang lalu, artinya dua belas bulan telah berlalu, nama saya pernah terkenal disini, dan dikenang sampai detik ini, nama saya menjadi familiar bagi guru-guru disini,  munkin ini suatu kebangaan, menjadi Hendra Keumala, yang tidak pernah punya ada impian untuk dikenal namanya disekolah sefavorit ini. ha ha  ha a

Tapi saya begitu yakin, yang ibu maksudkan bukanlah saya, Mungkin ibu telah dikerjain oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, setau saya tidak ada yang namanya hendra keumala di tempat kita sebelumnya kecuali saya, dan saya baru bergabung dengan lembaga ini beberapa bulan yang lalu, itupun status nya sebagai pelajar, setiap kegiatan advokasi yang kami lakukan sudah dibekali dengan surat tugas resmi yang ditandatangani oleh pimpinan, layaknya seperti hari ini, meski demikian tidak dibenarkan bagi kami melakukan hal-hal seperti itu, apalagi memeras.

Minggu, 01 April 2012

“ Janji yang di Nodai ”


Oleh : T.Hendra Kemala Alamsyah

Surya,  tertunduk lesu di atas kasur lusuhnya, dengan mata berkaca – kaca menerawang ke dinding kamar, hati nya larut dalam keharuan biru langit – langit kamar, diam seribu bahasa, seakan tidak percaya dengan pesan yang baru saja ia baca.

 “ Raisya  ” sebulan yang lalu telah berikral akan setia menunggu ke pulangannya dari kuta raja, kini berubah dalam sekejap, kedipan mata.
 “ bang adinda janji akan jaga diri adinda untuk abang, begitu juga abang tolong jaga diri mu untuk adinda, adinda akan setia menunggu kepulangan mu, sampai abang meraih gelar sarjana di kuta raja, doa adinda selalu menyertai di setiap langkah mu”  kata itu kembali hadir menyesaki relung – relung hati nya, setelah pertemuan tempo hari di kampung nya.

Ikral janji yang  selalu menemani surya dalam kesendirian di perantauan, untuk tetap setia pada sang pujaan, meskipun banyak godaan yang datang.
Kini ikral janji itu telah ternoda, penuh kontra dan dusta,rasanya  ingin menjerit sekuat tenaga, tapi lidah nya kelu dan kaku untuk itu, diri seperti tak  memiliki raga lagi, terlalu perih hatinya kini, Surya, masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia baca.

Assamualaiku wr.. wb..
Bang sebelumnya  adinda minta maaf  atas sms ini, bila nantinya menyakiti hati abang, jujur saja adinda tidak bisa meneruskan hubungan ini, mengingat  jarak yan berjauhan membuat dinda tidak nyaman untuk meneruskan hubungan kita, Lebih baik kita sudahi sampai disini saja, keputusan ini memang berat tapi apa boleh buat bang, lupakan semua jenji – janji yang pernah ada, terimakasih atas waktu yang telah abang berikan selama ini, maafkan dinda telah membuat abang kecewa, wassalam orang yang pernah hadir dalam kehidupan mu. Raisya.

Pesan singkat yang telah mehantarkan ribuan  asa, seperti tombak mehunus dada, hatinya penuh luka “ kau curang Raisya, mana janji mu, tiba – tiba kau berubah begitu saja, di mana ke jujuran mu Raisya, bukan kah kau  telah mengatakan menjadikan jiwa mu sebagai sebuah kelambu, yang akan menyelubungi hati ku, tempat ku bercerita melepas duka di hari – hari tua, tapi kini telah kau ukir menjadi  luka.

Tidak kah kau ingat ketika meminta ku untuk tidak poligami, jikalau kita berumah tangga nanti. Dan aku menyanggupi permintaan mu, oh Raisya.. aku tidak mengerti, sungguh aku tidak paham apa mau mu, hanya karna jarak yang  berjauhan ekau lupakan begitu saja, janji – janji yang pernah ada.

Surya, hanya bisa mengelus dada, mata menatap sayup – sayup lampu kamar di balik butiran air mata, pikiranya menerawang mengulagi memoriam asmara, hari – hari  bersama Raisya, tawa lepas canda nya tempo dulu di ketika  Raisya menanyakan arti dari selop sie blah sapeu, bahak tawa surya lepas sambil memikirkan arti dari pertanyaan itu, Pupus sudah semua harapan lirihnya, sambil mengubar seutai senyum hambar dari bibirnya.

Surya,  mencoba untuk menenangkan diri menerima apa yang sudah menjadi garis tuhan, orang yang dia sayang kini telah berpaling dalam pelukan orang, Surya,  hanya bisa menegadah tanggan meminta kekuatan dari tuhan, agar tabah mehadapi cobaan, biarlah pil pahit ini ia telan, menjadi obat menempuh hidup masa depan.