Jumat, 20 Desember 2013

Sewa Umeong


Sewa umeong , begitulah sebuah adagium Tempo dilee yang pernah dipakai dalam masyarakat gampong, istilah ini pasti tidak asing bagi mareka masyarakat perdesaan aceh, apalagi mereka masyarakat yang berdomisili di wilayah pantai barat aceh khusunya nagan raya, khususnya para petani atau ureng meugo blang, istilah ini sangat populis pada era tahun 70 an, sejalan dimana pada umunya masyarakat nagan mengadukan nasib mereka pada hasil pertanian khususnya padi.

Rasanya, belum lengkap jadinya bila belum memiliki sepetak sawah untuk menanam padi, meskipun itu tergolong kecil, sekalipun mereka yang sudah berkehidupan mapan dengan menerima transferan gaji dari pemerintah setiap bulannya, begitupun pada umumnya anak-anak muda,  mereka mendedikasikan dirinya untuk bertani, apalagi bagi mereka yang hendak berumah tangga, tentu meugo menjadi andalan utama untuk megumpulkan manyam demi untuk memenuhi pinagannya mereka.
Menjadi petani memang sesutu yang membanggakan dan pekerjaan mulia, apa lagi, Jeumeot, pekerja keras seorang pemuda, menjadi lirikan para gadis, bahkan nilai plus calon sang mertua untuk dijadikan menantu, pendidikan, mungkin masih sangat tabu begi mereka, walau ada beberapa yang menempuh jalur pendidikan perguruan tinggi, itupun masih dapat dihitung jari, pendidikan seseorang juga sangat tergantung dari luas, luas nya sawah yang dimiliki, atau mereke anak juragan tanah, sisanya adalah mereka-meraka yang membayar sewa umeng yang hanya dapat menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Inilah mereka-mereka yang tidak memili umeng sendiri, yang banyak mengadukan nasibnya kepada jurangan tanah, dengan mendekati mereka yang memiliki umeng luas, dengan ketentuan akan membeyar sewa pada saat  musim panen tiba, tentu sesuai dengan, kesepakatan dan setimpa dengan luas umeng yang disewanya pula. Biasanya, mereka juga akan menyewa jasa kerbau untuk menggarap sawah-sawah mereka, yang dibayar sesudah memperoleh hasil karena pembayarannya masih belum mengandalkan uang  melainkan hanya dengan “ padi ’’ adalah dengan takaran naleh, gunca, sesuai dengan luas atau lahan, yang telah ditentukan, adapula yang dibayar menurut hasil panen yang diperoleh, tergantung kesepakatan awal antara si penyewa dan yang menyewa lahan.

Dan bergitupu sebuah gambaran kehidupan masa lalu mengendap disudut-sudut ingatan, kemudian berlalu seiring lajunya jaman, umeng yang pada masa dulu menjadi andalan kini dibajak oleh gedung-gedung ruko-ruko bertingkat, membayar sewa kebau itu hanyalah cerita lalu, jaman sekarang adalah masa dimana Nip berbicara. Kerena jaman sudah beda.
Meskipun jaman sudah beda, kehidupan bertani sudah di anggab sesuatu yang tabu, sepertinya istilah sewa umeng, masih tetap saja digunakan dalam masyarakat, baru-baru ini, setelah sekian lama padam istilah itu kembali terdegar dari seseorang. boleh dikatakan teman ngopi lah, dari cara berpenampilan dapat saya simpulkan ia ber berprofesi sebagai salah seorang rekanan proyek pemerintah di Kabupaten Nagan Raya, setidak nya ia pernah mengikuti prosesi tender proyek.

Lebih kurang, begini tutur kawan saya ini, sangat jarang dan tabu bagi pemerintah itu untuk berlaku transparan dalam proses tender, dan yang paling memberatkan ketika kewajiban membayar “ Sewa Umeng ” upeti yang harus dipenuhi oleh rekanan kepada si pemilik paket pekerjaan, sebelum Sesuatu belum ada kejelasan”. Ops..keceblosan..!

Tunggu dulu, Sebenarnya ini hanyalah obrolan seputar warung kopi, yang lepas begitu saja, liar tidak mengarah, begitupun, tidak baik juga terlalu cepat berkesimpulan setiap obrolan yang dilahirkan dari warung kopi adalah sesuatu yang tidak penting untuk dibicarakan, karena setiap sesuatu yang berawal dari pembicaraan warung kupi biasanya juga ada sangkut pautnya dengan fenomena kehidupan masyarakat.
Ah peduli amat,  bukan mengapa ini hanyalah cangpanah warong kupi, bila beralas dari uraian di atas, Kalian pasti mempu membedakan dan ketepatan  antara istilah Sewa Umeng yang digunakan Endatu Tempo dulu dengan istilah yang di gunakan sekarang ini. begitupun waktu pembayarannya. Sangat jauh berbeda bukan? Lalu kalian, apalagi saya, yang sudah barang tentu menimnulkan rasa ingin tahu, menyisakan pertanyaan dalam benak masing-masing, Benarkan adanya istilah demikian lalu siapa  sich penguasa mutlak dari  “ Umeong”  di Nagan ..?

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda