Jumat, 20 Desember 2013

Rindu Kaku



Masih saja kaku, meski rindu dipilir waktu, apa gunanya gemuruh berbelitan, bongkah awan menerbangkan harapan, jika hujan tidak jua datang dan gersang tetap saja mengeringkan ilalang. benar-benar fatamorgana yang hadir dengan janji-janji semu.

Semu, adakah kalian tau arti dari “ Semu” itulah tipu muslihat, tidak ubah genangan air dalam padang pasir, tampak indah memersona dari kejauhan, padahal itu hanyalah pantulah udara panas seolah-olah danau besar ditengah gurun gersang.

Begitu juga rindu yang kaku, tak ubah umpama pungguk hendak memeluk rembulan, dan tentu tidak akan ketemu antara dinding waktu rembulan dan dinding waktu sang pungguk.

Sang Rembulan yang memersona diujung angkasa sedangkan pungguk hanya memeram rindu dipucuk ketapang, persis “taceut bulen dengan ujong sadep ” Bencana pungguk, rindu yang tidak kesampaian.

Meski setia melewati malam kerena hanya tidak ingin melewati keindahan bulan purnama. tetap saja rindu pungguk tidak akan kesampaian, tetap saja tidak kesampaian. Pengorbanannya terjebak dalam “ Rindu Kaku ”

Laet lhok galah panek, troh taceugek, han troh taraba, Artinya : Laut dalam galah sejengkal, dapat dipandang tak dapat dijengkal, Karena adakala rindu rindu itu tidak harus "Terlunaskan " karena yang kita rindu adalah rindu kaku.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda