Jumat, 20 Desember 2013

Kedamaian Abadi


Aku tidak percaya jika pada saat itu kau benar-benar pergi sungguh kami tidak begitu yakin, karena pada waktu itu kau pamitan hanya untuk memenuhi undangan khanduri di ujung kampung kita, ternyata maksud mu lain, jika kami tau, maksudmu pamitan mu pada saat itu sungguh kami tidak akan melepas mu dalam kegelapan malam itu, maafkan kami yang tida mampu membaca gelagat lain dibalik wajah tangguh mu.

Kami benar-benar anak-anak mu yang tidak mampu membaca jika pamit itu hanyalah bincang akhir melepas kepergian mu, sekali lagi sungguh jika kami tau ajal itu menjemputmu dimalam itu tidak akan kami biarkan kau pergi sendiri dan mendekap mu dalam pelukan, karena kami masih ingin menatap lamat-lamat seluruh tubuh mu, dan menghirup oroma tubuhmu, karena dengan keringat mu kami tumbuh dibesarkan.

Kau sederhana, yang selalu tampi apa adanya, bagi kami kau tangguh..

Ayah kami bangga pada mu, dengan segenap perjuangan untuk meyekolahkan kami, meski kau tidak pernah punya kesempatan indahnya licinya meja belajar disaat kecil mu, kau pahlawan kami disaat gerak masa kamu kenang.

Ayah sungguh kami rindu.

mengapa secepat itu. bukankah esok hari negeri kita akan " Damai " bukankah kau juga merindukan peluk hangat dari mereka teman-teman mu itu, dan jabat tangan erat, bukankah begitu ayah....?

Sungguh aku sudah keliru memaknai maksud mu, Damai dalam bentuk lain..!


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda