Jumat, 20 Desember 2013

Meu kaoi Bak Buy


Tadi sore minggu19 Mei 2013 kedatangan seorang teman ke kost, kebetulan ia juga berasal dari satu daerah dengan saya, lama juga tidak berjumpa dengan nya semenjak saya angkat kaki dari kampung menimba ilmu ke Kuta Radja, tuhun 2007 lalu, semenjak itu saya sudah jarang berjumpa dengan nya, meski saya sering pulang pada saat libur kuliah.

Bila dilihat dari umurnya, saya lebih jauh tertinggal dengan nya, tapi sikap nya yang ramah tampa memilih-milih kawan, membuat saya tidak ada sekat antara kami, malah ia suka bercanda, dan tampi apa adanya. sampai pada hari itu aku masih menangkap lelocon dan kesederhanaanya persis seperti pada saat-saat pertama ia turun gunung dulu, meskipun banyak dari teman-teman seperjuanganya dulu yang sudah memiliki mobil mewah dan memilih hidup menjadi kontraktor.

Pertemuan itu benar-benar membuat saya heppy dihari minggu itu, dengan mendengar potongan-potongan cerita darinya, realita yang terjadi dikalangan para pejuang aceh merdeka yang sekaliber dengan nya dulu.

Banyak dari kawan-kawannya yang seprofesi denganya dulu sudah sukses menjadi kontraktor dengan mengikuti pelelangan proyek ke provisi, inilah yang menjadi motivasinya untuk datang keprovinsi.

Namun harapan itu sangat bertolak belakang dengan perkiraan sebelunya, ia kerap mendapati janji-janji manis belaka dari teman-temannya.

Ureung Geutanyo Menyeu di laet sapeu pakat ban troh udarat kalaen kenira..!

Ia mengumpamakan teman-teman seperjuangannya pada saat melobi proyek ke provinsi mereka mengatas namakan jamaah KPA, atau anak yatim, tapi disaat pekerjaan itu menang sudah menjadi milik perseorangan.
ia mengibaratkan seperti meluruskan ekor anjing.
Saban lege tape tupat Iku ase lop page.. !

Persis seperti kita luruskan ekor anjing masuk pagar, lurus disaat ada sesuatu yang menghadang, dan untuk memuluskan pada saat memasuki pagar. kondisi ini membuat ia kerap berpikir prakmatis.


Lageu tameu kaoi bak bui...

Seperti kita berhajat kepada babi....

Ibarak kita berladang ( Menanam padi) di hutan belantara, yang menjadi tantangan adalah hama babi jika kita tidak berbaik dengan nya tentu tamanan itu tidak akan selamat. Tentu dengan cara Meuka Uoi bak Bui..!

Hai Buy bek hile neupekaru tanaman pade nyo, watee meuhase lon peuduk peut boh ulee nibak keudreuneh..!

Panenpun tiba, sang pemilik kebun menyangupi hajatannya kepada babi, dengan meletakkan beberapa ikatan nibai padi disebuah pokok kayu, pada saat itulah sang pemilik kebun tersebut menghunuskan tombak ke tubuh babi...!

Maksudnya adalah berpura-pura baik, namun dibalik kebaikan itu ada dendam yang dipelihara, yang pada sewaktu-waktu akan membinasakan []

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda