Kamis, 15 Maret 2012

Kulat Jumpung













Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat saat lelaki tua itu tiba disebuah pondok. Dia datang dengan mengendarai sepeda motor. Setelah memarkirkan motornya dia langsung naik ke pondok yang ada didepannya. Wajahnya sudah mengerut dimakan usia, rambutnya yang hampir semua memutih itu  disisirnya serong.



Meski batang usianya sudah tinggi, dia masih mampu melihat tanpa bantuan kaca mata. Dia sangat hati- hati bicara tentang Usaha yang digelutinya. Dialah yang pertama membudidayakan Jamur  Merang di bumi serambi Mekkah.



Sarwan TA,  sang pemilik budidaya Jamur Lee Guna. Sarwan sudah menggeluti usahanya sejak 1999 silam. Usaha yang digelutinya itu bermula ketika ia membaca sebuah majalah pertanian yang bernama “Trubus” pada tahun 1994.




Sebelum budidaya jamur, Sarwan membuka usaha pembuatan Limun pada tahun 1976 di kampung halamannya Sentosa, Beureunuen. Namun usahanya harus gulung tikar pada tahun 1982 karena sudah banyak saingan. Setelah usahanya gulung tikar, ia sempat mengadu nasib ke negeri Jiran Malaysia. Lima belas tahun  ia bolak balik Malaysia – Aceh, namun lagi-lagi nasib tidak berpihak padanya.



Pada tahun 1994, sewaktu masih bolak balik ke Malaysia, dia membaca majalah Trubus yang membahas masalah pertanian. ia menjadi tertarik dengan ulasan majalah tersebut tentang Budidaya jamur. Menurutnya usaha tersebut cocok dikembangkan di Aceh karena suhu di aceh sangat bagus untuk pembudidayaan jamur merang dan medianya mudah di dapat.



“Saya pertama mengenal budidaya jamur dari Majalah Trubus. Menurut saya di Aceh cocok dengan usaha itu, karena cuacanya sama dengan di Karawang” kata Sarwan saat  kami menememuinya di tempat usahanya di kawasan Cot Iri, Barona Jaya Aceh Besar  Selasa (13/3) sore.


Berbekal semangat yang kuat, pada tahun 1997 ia berangkat ke Karawang Jawa Timur untuk memperdalam ilmunya tentang tatacara membudidayakan jamur. sebelumnya ia juga pernah belajar budidaya jamur di tempat yang sama. “ Saya tiga kali magang di Karawang, dan semua biaya saya tanggung sendiri”. sambungnya



Tepat pada tahun 1999 ia membuka usahanya di Sentosa Beurnuen saat ia masih menjadi keuchik di Sentosa. Beurnuen, usahanya tidak berkembang pesat. Tak banyak yang mengenal usahanya itu dan pembelinya juga terbatas.


Setiap panen ia membawa jamur-jamurnya itu ke berbagai instansi pemerintahan yang ada di Pidie. Ia kerap mempromosikan jamur-jamurnya ke berbagai elemen masyarakat. Jamur-jamurnya juga sempat beberapa kali  membusuk akibat tidak bisa menembus Sigli karena pada waktu itu Aceh masih bergejolak.



“Jika terjadi kontak tembak di Caleu, Saya tidak bisa membawa jamur ke Kantor-kantor di Sigli, dan saya harus menerima kerugian” tambahnya.


Pada tahun 2002, Bupadi Pidie Abdullah Yahya memberinya dana sebesar 50 juta. Dana tersebut merupakan bantuan untuk korban Daerah Operasi militer (DOM). Ia menjadi korban DOM dan di tahan oleh pasukan Kopassus di rumoeh gudoeng  pada masa DOM selama lima bulan. Bantuan lainnya datang dari Gubernur Aceh Abdullah Puteh yang ia minta saat bertemu di pameran yang di gelar di TamanSari.



Bermodal uang 60 juta rupiah, ia kemudian membuka usahanya di Kawasan Prada Banda Aceh. Ia pindah ke Banda Aceh karena di kawasan Sigli usahanya tidak bersahabat. Setelah pindah ke  Banda Aceh, usahanya berkembang pesat bak jamur di musim Hujan.



Di Prada, ia membuka Sembilan kumbung tempat budidaya jamur dengan penghasilan mencapai 250 sampai 350 kilogram perbulannya. Meski demikian ia juga sempat mengalami kegagalan yaitu tidak mencapai target yang diharapkan.



“Gagal disini dalam artian tidak tumbuh, itu disebabkan karena bibitnya kurang bagus” Ujar pria kelahiran Sentosa 62 tahun lalu itu.



Ia mendatangkan bibit-bibit jamur langsung dari Karawang. Selain bibit, dedak, kapur dan media pembuatan jamur lainnya seperti jerami yang didatangkan dari Blang Bintang Aceh Besar serta  Sawit yang didatangkan langsung  dari Lhoksukon.



Setiap pagi ia mengantarkan jamur-jamurnya ke berbagai tempat yang menjual aneka olahan mie jamur seperti mie midi, mie lala, bakmi ijo, Dhapu Kupi dan berbagai tempat lainnya. ia juga mengantar jamur- jamur itu kepada pedagang di Pasar Peunayong.



Selain itu, ia juga menerima mahasiswa magang dari berbagai Fakultas yang ingin belajar tentang budidaya jamur. tak hanya mahasiswa, warga pun banyak yang tertarik dengan usahanya. Ia juga sudah mengajarkan ratusan kalangan dari berbagai latar belakang. Ia juga pernah di undang untuk menjadi pembicara dalam beberapa seminar.



“Setiap hari ada mahasiswa magang disini,setiap yang magang disini harus bayar dengan harga yang telah ditentukan. Warga dari berbagai daerah juga banyak yang belajar disini” Aku ayah lima anak itu.



Ia mengatakan sudah banyak anak didiknya membuka usaha yang sama di berbagai tempat. Walaupun sudah banyak cabang, ia belum berniat untuk membuat bibit sendiri. Menurutnya, biaya pembuatan bibit itu sangat tinggi dan media untuk membuatnya pun tidak tersedia di Aceh.



Akhir desember 2011, usahanya harus pindah ke kawasan Cot Iri, kecamatan Barona Jaya karena tempat semula sudah habis masa sewanya. Di Cot Iri, ia dibantu dua orang karyawan. Di  tempat yang seluas 870 X 900 itu, ia membuka 3 kumbung untuk budidaya jamurnya.


Rizal (20) salah seorang karyawannya mengaku, jamur merang selain enak untuk dimakan juga dapat menjadi obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Banyak orang yang sudah berobat ke Penang sembuh dengan makan Jamur ini” kata pria asal Idi tersebut.



Ia menambahkan, usaha budidaya jamur sangat menarik untuk dikembangkan. Ia juga berniat membuka usaha itu dikampung halamannya di Idi Aceh Timur. Namun masih terkendala dengan biaya.


Ia juga sudah sangat menguasai teknik pembudidayaan jamur merang tersebut. baginya, bekerja sebagai pembuat jamur lebih enak daripada menggeluti pekerjaan lain. “Enak kerja disini, di sini kerjanya gak terikat dan gajinya lumayan” Ujar Rizal.



Walau sudah membuka usahanya sejak 2002 di Banda Aceh, Sarwan mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah Aceh. Banyak pegawai dari berbagai intansi yang datang menemuinya untuk meminta data, namun ia tak pernah memberinya lagi. Ia tidak lagi mengharap bantuan dari Pemerintah.



Meski banyak usaha – usaha budidaya jamur berkembang di Banda Aceh beberapa waktu lalu, Budidaya Jamur Lee Guna milik Sarwan masih tetap bertahan. Saat ditanya siapa pertama membudidayakan Jamur di Aceh, ia menjawab” Saya yang pertama menggeluti usaha itu dan saya bisa dibilang pencetus budidaya jamur di Aceh” jawab Sarwan. []









0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda