Sabtu, 17 Maret 2012

“ Hamparan hati ”

Foto Ilustrasi di kopy dari Google.com


Langit seperti hati luas tak jelas batas
Makin jauh memandang makin tak terbatas
Mendung, cerah, juga gelap pekat dan gemuruh


Seperti dunia hati punya cuaca
Pasang surut luka lara, kerinduan dan kebingugan
Petir besambar puyuh riyuh berbelitan, banjir luapan air mata
Sesekali tubrukan terjadi dalam hati seperti meteor, atau komet
Memercikkan api, seperti kebencian, dendam atau iri dengki.

Di malam – malam yang suram
Hati terkucil sendiri, di kepung kabut, bak langit pekat jauh dari bintang
Jauh dari bulan, jauh dari kemesraan
Angin tak bergerak, udara sesak, hatipun menangis, terasing, tergerit,
Berdarah di tikam rindu.


Lalu di mana ujung langit dan di mana dasar hati ..?
Karna langit biru ia membuat ku menangis
Keharuan biru terbentang dari tempat tampa ujung-
Ke tempat tampa ujung.


Langit juga sering mengagumkan
Pesona yang menyerap pujian, menyerak kesedihan, keriangan,
Gundah gulana, menyerap ketak mengertian
Lalu hati, langit yang lain.


Keluasan yang menyimpan suka duka
Ke gundahan, kecemasan, gelisah berkepanjangan
Pertanyaan yang tak berkunjung terjawab
Dalam hati kenangan membentuk cerita,membentuk sejarah rasa
Sejarah yang di ingat terus pada saat sendiri.


Hati seperti langit luas tak terbatas
Hati mengundang penjelajahan tak usai – usai
Tak sampai – sampai
Terus menyebur cerita tak habis – habis.
Wassalam.




0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda