Selasa, 20 Maret 2012

Pria Antar Gank

 
Oleh: T.Hendra Kemala Alamsyah

Suara deruan mesin mobil panter pick up yang memecah di keheningan malam, mengejutkan se isi rumah kos – kosan yang berada di jalan Tgk dibale, kampung mulia, suara pekitan mesin desel keluaran tahun 2004 itu mehilang dalam kegelapan malam.

semakin lama semakin menjauh kedegaran, minggu 18/12/2012, jarum jam menunjukkan pukul empat tiga puluh pagi, dalam suasana dingin yang menikam badan, said rijal semakin mengencangkan tekanan gas mobil yang sedang di kendarainya.

Lampu – lampu penerang jalan, yang berjejeran di sepanjang jalan tengku imum lung bata, satu persatu ia tinggalkan, dentuman suara musik yang di keluarkan V.C.D mobil kerap menemani nya dalam perjalanan malam,love me many, sese kali said rijal mengikuti lirik lagu yang di bawakan cinta laura itu, mobil nya terus di pacu menuju arah lambaro kafe.

Mobil barang yang menyesaki jalan – jalan pasar lambaro kafe yang berjejeran di parkiran menunggu giliran bongkar, ada beberapa orang yang sedang sibuk membongkar muat, sayur – sayuran yang baru saja di datangkan dari takengon dan medan,

Said rijal memasuki parkiran, mobilnya dirapatkan ke sebuah mobil truk barang saling membelakangi, wak nan, seorang buruh pembongkar barang memasuki sayur – sayur pesanan rijal ke dalam mobil panter pick up nya.

Tujuh tahun yang lalu pria kelahiran perlak aceh timur ini mangadu nasib di banda  aceh, setelah menamatkan SMA negeri lhoksemawe pada tahun 2003, pada mulanya said rijal bekerja di warung kelontong milik hafsah yang berada di jalan T. Iskandar berawe,

 setelah musibah tsunami luluh lantarkan kota banda aceh, said rijal kembali mengangkat kaki dari ibu kota provisi aceh ini, untuk kembali ke daerah kelahirannya yaitu aceh timur.

Pada saat itu ribuan nyawa rakyat aceh melayang di timpa musibah gempa bumi dan air bah tsunami, di mana rumah – rumah hancur berkeping – keping dan tanah menjadi rata kembali bak padang pasir yang gersang, dunia pun berduka pada saat itu,

 membuat semua mata masyarakat di seluruh dunia  melirik provinsi yang berada di ujung indonesia ini, sumbangan, baik dalam negeri maupun luar negeri, makanan serta obat – obatan, relawan, dan finalsial membanjiri aceh, gedung – gedung yang rusak di bangun kembali.

Said rijal memamfaatkan momen tersebut, pikiran nya sudah mantap kini, ia ingin kembali mengadu nasib di ibukota provinsi, dua bulan pasca gempa dan tsunamy, bertepatan pada tanggal tiga maret dua ribu lima ia kembali mengijakkan kaki nya di kota banda aceh, tapi kali ini ia memilih menjadi buruh bangunan, walau hanya di upah empat puluh ribu per harinya ketika itu, karena tempat ia berjualan dulu, sudah tidak ada lagi.

Setalah lama ber profesi sebagai buruh bangunan, dengan bermodalkan satu juta tujuh ratus ribu rupiah, buah dari hasil pekerjaan nya yang ia tabung selama ini, kemudian mengalihkan perkerjaan nya dengan berjualan sayur keliling, mata hari masih dalam persembunyian,  said, harus  sudah berada di pasar penayong untuk membeli sayur yang di pasok dari lambaro oleh toke bangku,

kemudian ia jajakan kerumah - rumah warga kota banda aceh denga becak barang yang ia sewa dari orang, perkejaan itu saban hari ia lakukan semenjak dua ribu tujuh silam, walau harus bermandikan hujan maupun panas terik matahari yang membakar dan tak peduli oleh dinginya angin malam.

Lorong demi lorong ia jelajahi setiap pagi nya, hampir setiap jalan dan gang yang berada di kecamatan kuta alam itu  ia kunjugi sambil meneriaki sayur .. sayur.. sayur…. Ia menawarkan sayur nya, Dan becak lusuhnya terus di pacu pelan, di tambah mata yang liar melirik kiri kanan melihat pelangan yang datang, dalam usaha baru nya ini said sudah mulai bertambah pendapatan, per hari nya ia dapat untung berkisar 60 sampai 100 ribu perharinya.

Pria kelahiran 12 agustus 1985 ini kadang tidak selalu untung dalam berjualan, di tambah lagi ketika musim hujan datang, karna pelanggal jarang menkomsumsi sayur di saat hujan, tak jarang ia membagi bagikan sayur tersebut kepada anak koskosan yang berdekatan dengan tempat ia tinggal, hunbungan ini terus ia bangun dengan warga sekitar, dengan membagi – bagikan sayuran, sebagai investasi masa depan, baik itu keharmonisan dan bekal di hari akhir nantinya, kata said.

Buah dari hasil kesabaran pria ganteng pengemar lagu cinta laura ini sudah menuai kemajuan pesat dalam usahanya, dulunya ia menjajakan sayur ke rumah – rumah dengan becak yang sudah  keropos bekas hantaman tsunami yang sudah batuk – batuk, itu pun harus mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah per harinya untuk biaya sewa becak tersebut, tapi kini telah tergantikan oleh mobil panter pick up sebagai pendukung usaha nya itu.

Mobil yang ia beli setahun yang lalu, kini ia pakai untuk melansir sayur dari lambaro kafe ke pasar penayong, yang ia pesan dari patner bisnisnya di takengon aceh tengah, saban hari sebelum subuh said rijal sudah menurunkan barang – barang nya di lapak - lapak jalan kartini penayong. di sana telah di tunggu oleh pelita alam, seorang rekan kongsi nya selama ini, pria asal nagan raya inilah yang membagi – bagikan sayur kepada nyak – nyak  yang berjualan di tempat itu.

Kerumunan orang nampak gaduh menyesaki jalan kartini penanyong, para pedagang sibuk mengurusi barang – barang nya masing – masing, dalam suasana remang – remang  pembeli sudah mulai berdatangan mencari sayur sayuran, Jam sudah menunjukkan pukul lima empat puluh, waktu sholat subuh tiba, said dan pelita sudah pada selesai membagi sayur kepada para pedagang dan beberapa orang anak buahnya, mereka kembali kerumah menunaikan kewajiban sholat shubuh, sambil menjinjing kembang kol dan cabai merah yang sudah di masukkan dalam kantung plastik hitam, sebagai lauk buat makan siang.

            Terik mata hari sudah mulai menampakkan sifat khasnya yang panas, membuat kulit - kulit kering terbakar oleh nya, burung – burung gereja pun, seakan tak mau beranjak dari sarang, mereka berteduh di balik – balik daun hasan rindang yang tumbuh di hutan kota, mehindari sengatan sinar sang surya, bagi said rijal, bukan suatu pehalang,

jam sepuluh menjelang siang, ia mulai starter mobil nya kembali ke pasar, kini satu persatu pedagang yang berada di gang kartini ia jejali, rijal kembali untuk mengutip uang dari para pedagang, barang - barang yang baru saja ia titip tadi pagi, kini telah  menuai hasil.

Rupiah demi rupiah yang said dapatkan bukanlah hal yang mudah ia peroleh, di samping kendala modal yang terbatas untuk memgembangkan usahanya itu, juga di tambah oleh banyak nya pedagang yang engan membayar penuh atau berutang dulu, mereka mencicil atas barang yang telah ia pasok ke lapak – lapak tersebut, mau tidak mau said harus berutang juga untuk memesan barang ke esok hari nya lagi.

Liku – liku dan jalan terjang yang di tempuh said rijal membuat dirinya teguh dalam pendirian, walau dalam keterbatasan ia terus mengembangkan usahanya dengan sabar, sekarang ia sedang mencari relasi di pulau sabang untuk mengembangkan bisninya,

 keteguhan dan kesabaran nya selama ini telah mehantarkan said untuk meminang seoarang gadis di kampung nya, gadis manis yang bernama syarifah al syihab itu telah di pinang nya pada akhir tahun lalu, isyaallah pertegahan bulan lima nanti kami akan melepaskan masa lajang, dengan perasan senang bercampur malu,
 said mengutarakan. Doakan.. ya…!  semoga kami di anugerahi keluarga sakinah mawaddah warahmah..
“Salam dari lapak – lapak pingir jalan kartini peunayong ’’

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda