Minggu, 17 Februari 2013

* Kecamuk Perang Mebawanya Pergi *





Oleh : Teuku Hendra Keumala


Pagi itu mentari seakan engan menampakkan cahaya terang, karena terlanjur di tutupi oleh gumpalan hitam, yang mengapung di langit – langit terus berarak menuju pergunungan singgah mata Beutong dan menutupi kilauan hijau dedaunan yang ada di sana, gelap langit tampak hitam, gemuruh berontak menumpahkan hujan, membuat masyarakat Gampong Kabu engan ber aktivitas, mareka larut dalam kedinginan yang dihembus sang alam pada pagi itu, suasana perkampungan begitu sepi tampa aktivitas warga yang terlihat dipagi ini yang ada hanyalah serentetan gupalan huja kecil yang mehantam atap rumah – rumah permukiman warga yang kebanyakan masih meggenakan daun rumbia, terus rintik itu melesat ke bumi.

~ ~ ~

Tapi tidak dengan Pak Uma, ia begitu bersemangat di pagi hari ini walau mentari engan memberi kehangatan, kanapa tidak, kebahagiaannya menjadi wajar karena kemaren sore ia beru saja mendengar kabar dari kerabatnya yang telah lama tinggal di Ibukota Kabupaten akiban koflik bersenjata antara “ GAM Dan RI ’’ namun hari ini mereka akan mengakhiri permusuhan itu, begitulah pesan yang ia terima, artinya aceh damai, tidak ada lagi terol, tidak ada lagi pertikaian, dan razia – razia di jalan, tidak ada lagi perbantaian anak manusia, dan pertumpahan darah di serambi mekah.

~ ~ ~

Sungguh merupakan suatu yang sangat beharga yang tidak bisa diukur dengan uang emas permata sekalipun, lirih umar, Umar terharu ketika mendengar kata sakral, yang baru saja terucap, setitik air bening jatuh dari dalam pelupuk mata yang sudah tampak kelelahan, hangatkan pipinya, raut wajah yang sudah kusut di makan usia kini kembali ceria bak seorang pemuda dalam masa belia, umar sadar, dirinya tidak boleh larut dalam keharuan, ia harus pergi ke sawah sekarang, mengurusi padi – padinya yang sudah tampak menguning itu, yang semakin hari makin merunduk, jikalau di biarkan berlama – lama akan susah memanennya nanti.

~ ~ ~

Umar bahagia, ditengah memetik hasil panen jerih payahnya selama ini yang lumayan bertambah dan secercah kabar perdamaian yang baru saja didegarnya, lagipula ditahun ini ia akan mengadakan hajatan besar, hajatan itu khusu untuk cucunya, cucu pertama dari anak perempuan nya, pada pesta sunatan nanti ia telah menyiapkan satu ekor kerbau dan akan merencanakan untuk mengundang seluruh ahli family beserta seluruh masyarakat desanya itu. tentunya ia sangat senang dengan pemberitaan perdamaian itu, umar akan dapat mengudang saudara dan kawan – kawannya yang sudah lama mengembara dalam hutan belantara, yang diburu para tentara indonesia, ia membayangkan tawa dan peluk hangat saudaranya di hari pesta nanti, yang sudah lama hilang dalam kehidupannya itu.

~ ~ ~

Semenjak ada pemberitaan perdamaian antara Gam dan Ri grafitasi konflik sudah agak menurun, hal itu terlihat dari sudah agak menurunnya kontak tembak antara pejuang dan tertara indonesia, masyarakatpun sudah dengan bebas menjalankan aktifitas sehari – hari dalam mencari bekal untuk membuat asab dapur rumah mereka tetap mengepur menyambung hidup, umar, hari – harinya terus berangan akan pesta hajatannya itu, mungkin akan menjadi pesta termegah dikampunya setelah perdamaian nanti.

~ ~ ~

Malam semakin gelap, mata hari sudah mulai beranjak menuju pintu peraduanya, besok akan ada kejadian indah yang akan terukir dalam sejarah, jauh di negeri finlandia sana negara berhujan kapas itu, helsinki, kota yang dingin, disanalah beberapa perwakilan tokoh gerakan aceh merdeka sedang berumbuk menetapkan kesepahaman perdamaian, umar, baru saja menyelesaikan kewajiban sholat magribnya, langsung menuju meja makan yang sudah terkesiap di atas meja terhidang menu makan malam, berupa nasih putih beberapa ikan asin dan gulai jruk drin ( Asam Durian ), masakan kesukaan umar yang sering di masak khusus oleh sang istri.

~ ~ ~

Tiga puluh menit yang lalu sepenggal senja dimalam itu telah berlalu, umar, berkesiap memenuhi undangan khanduri samadiah disalah satu rumah warga pada malam itu, tentu tidak perlu ragu dan diselimuti rasa takut yang mendalam seperti dulu – dulu untuk keluar malam, karena perdamaian itu akan menghapus semua dendam, pertikaian akan segera berlalu, umar pergi dengan membawa secercah harapan perdamaian memecah hening dikegelapan malam, besok setelah malam ini berlalu masyarakat aceh akan bangun menyaksikan perdamaian itu, dan mereka – mereka itu juga akan turun gunung dengan merajut kembali perpecahan dimasa lalu.
~ ~ ~

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, pada pukul 23 malam itu sebelum kesepakatan damai itu terbubuh di atas kertas, kecamuk perang itu telah membawanya pergi, Umar benar – benar damai kini.[ ]

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda