Kamis, 15 November 2012

“ Lelap ”



Hanya satu, dua  teguk kopi yang tersisa
Tetap setia  membasahi kegersangan tenggorokan yang di landa kekeringan dahaga

Serta sebatang rokok Dji Sam Sue penganjar bibir, agar tak menyapa
Seterusnya adalah sunyi tampa bunyi

Inilah tabiat malam ia selalu menyanyikan irama hening di saat menjumpai jula
Manusiapun lelap di buainya

Di luar gelap, mata menatap percik cahanya dari barat
Memberi terang diketika gelap

Hati pun ikut hening, hanya bergeming dengan detak – detak kecil
Di raut hampa, tampa siapa menyapa

Malam surut, jangkrik bertaut, Mengatar malam menjumpai fajar
Pada akhirnya ku sudahi segala aktivitas belajar dengan mata terpejam

Oleh : Teuku Hendra Keumala

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda