Rabu, 21 November 2012

“ Gejolak jiwa ”



Mata hati ia selalu melihat dengan penuh teliti, tepat dalam menilai sesuatu,  jitu .. tidak pernah keliru, mata hati penuh pertimbangan serta selalu memberi arti dalam hidup ini. Itulah mata hati , selalu berteriak langtang dari balik sanubari, diketika raga tidak lagi sejalan  dengan bisikan hati.

Namun,  raga tetap saja bertindak lain menelusuri jalan lain, tidak jarang menghadirkan debat kusir antara mengikuti kehendak hati  atau mengirigi ajakan raga “ Bimbang ’’ seperti ada sekat pemisah perjalan hidu menjadi dau arah.

Tetap bertahan dengan profesi yang ku guluti selama ini tapi hati engan mencintai, namun ingin ku berlari pada profesi yang oleh hati merestui namun diri terhalang oleh materi.

Berada dalam satu wadah namun berbeda pandangan “ Bersebrangan” inilah cerita hidup serpihan gejolak jiwa  yang kualami, ada kerja namun tidak di terima oleh hati, namun oleh kacamata materi harus kupaksakan diri menerimanya demi memenuhi ongkos hidup yang semakin mendesak diri.

Bukan karena haram ataupun tidak suci, namun ada hal yang mengganjal dalam hati bersuara dari dalam diri yaitu apabila aku bertahan pada profesi ini berakibat pada pondasi awal  sebuah tujuan yang pernah kutabuh tempo hari dulu, haruska aku mengikuti lika liku yang apabila ku biarkan membuat diri terpental dari rel tujuan awal itu.

Kemana nak dibawa gejolak jiwa yang terus membara - membakar sumbu – sumbu kebimbangan. Hanya dengan kesabaran sebagai resolusi, penengah antara hati dengan jiwa membawa kepingan – kepingan ketenanggan pada jiwa.

Ohh…. Tuhan apabila benar suara hati itu suara mu…? Betapa teganya diri Ini telah membohongi diri dan juga diri mu….!
Ohh… tuhan tentu saja engkau telah merencanakan batas waktu akan kesabaran itu….!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda