Rabu, 30 Mei 2012

Senja di Beranda Jambo Bengkuang



Oleh : T. Hendra Keumala Alamsyah

Gunung itu menjulang tinggi ke anggkasa, hijau dedaunan pohon menari  nari diatas puncaknya, seakan menyapu langit - langit biru, serta aliran sungai di bawahnya meliuk  liuk bagaikan seekor ular yang menjalar menyulusuri hamparan padang luas. 
Air bersih nan bening yang mengalir diantara celah bukit hutan yang dianugerahi surat keramat sebagai hutan lindung itu,  memberi kesejukan bagi mereka yang bersentuhan dengan air di tempat tersebut, itulah pesona Krung Isep.
Keindahan wisata Krung Isep yang membuat pengunjung tertarik kerena selain tempat permandiannya yang sangat cocok untuk semua usia mulai dari anak anak sampai orang dewasa dan juga kerena kesejukan alam serta airnya sangat dingin, selain itu kejernihan air sungainya pun tidak kalah dengan air aqua. 
Sungai yang membelah Gampong Pante Ara tersebut berada di wilayah Barat Aceh, Kabupeten Nagan Raya, kurang lebih lima belas kilometer jarak tempuh dari Suka Makmur Ibukota Kabupaten Nagan Raya dan sepuluh kilometer dari Kota Jeuram, tepatnya di Desa Pante Ara Kecamatan Beutong, untuk mencapai ke tempat itu kita cukup menaiki kendaraan roda dua dan empat.
Letak sungai dikaki bukit yang menjulang tinggi sertai dihiasi oleh pohon pohon rimbun nan hijau dan di apit oleh bukit bukit kecil, membuat tempat itu banyak dijejali wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan yang datang dari luar, aliran sugai yang masih perawan itu mengalir tepat di bawah jembatan yang menghubungkan antara Keude Ule Jalan dengan pemukiman Beutong Ateh, di bawah jembatan itulah orang orang berteduh dari sengatan mata hari, memanjakan diri dengan keramahan alam.
“ Air nya bening dan bersih bebas dari polusi  yang membuat kita terpikat untuk mandi di tempat ini”,  kata Syahrul Razi  salah seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi.
Di samping itupula rangkang  rangkang berbahan kayu dan beratapkan daun rumbia berjejeran di sepanjang aliran sungai tersebut, menjadi salah satu pilihan sebagai tempat singgasana peristirahatan setelah bermanja senda dengan kesejukan air deras.
Dari rangkang rangkang itupula, henbusan aroma kopi robusta menyebar keseluruh lubang hidung  yang ada di tempat itu, seakan aroma itu mencokok  pengunjung untuk menikmati air pekat hitam yang telah bercampur ampas kopi itu, menghangatkan badan setelah bermandian.
Selain itu, daya tarik keindahan Alam Beutong yang memikat adalah permandangan elok gunung singgah mata, apa lagi saat mata hari terbenam, puncak gunung yang berbentuk unik tampil dengan rona sendu, kemerahan yang menawan, suasana alam tersaji, di Singgah Mata, berkat petakan petakan hijau sawah warga.
Namun untuk menikmati keindahan singgah mata membutuhkan sedikit perjuangan,  kita harus menaiki tanjakan dan melanjutkan perjalanan ke puncak, dengan ruas jalan yang menanjak, walau untuk mencapai puncak singgah mata  akan membuat kita sedikit lelah, akan tetapi semua itu aka terbayar ketika kita berhasil mencapai puncak, permadangan elok terhampar di hadapan kita, bahkan seolah kita berada di atas awan karena lokasi singgah mata cukup tinggi.
Sore itu matahari sudah mulai melangkah pelan menuju pintu peraduan, walau cahaya sedikit terhalang awan, namun masih tampak indah di seberang laut barat sana, beberapa pria bergegas mengstarter sepeda motor, menaiki bukit singgah mata, setelah menegak kopi sedukan kak Rohana Minggu (27/05/2012).
Hanya menaiki tajakan lebih kurang satu kilometer kita sudah mencapai Jambo Bengkuang yaitu puncak Gunung Singgah Mata, letak bangunan tersebut berada di antara pemukiman Ule Jalan dengan pemukiman Beutong Ateh.
Bangunan yang berukuran  empat kali empat, berbahan kayu dan semen yang beratapkan seng itu merupakan tempat peristirahantan bagi warga yang melewati daerah tersebut.bangunan yang sudah tertata rapi serta corak dinding yang  terpoles cat biru muda itu sebagai tempat persinggahan sementara untuk memanjakan mata, bagi mereka yang sedang melakukan perjalan ke Takengon maupun sebaliknya.
“ Namanya saja Gunung Singgah Mata, jadi kalau lewat, singgah dulu, lihat dulu permandangan alamnya sambil menghirup udara segar”. Ucap Rahmad Reza, yang beberapa bulan lalu bergabung dengan Komonitas Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Teuku Umar.
“ Daratan membentang yang mendominasi Alam Beutong, tidak lah mengherankan jika Beutong memiliki karakteristik wilayah yang beragam. Topografi ini merupakan pahatan alam dan menghasilkan aneka bentuk atau tekstur yang mengagumkan” Kisahnya lagi, sambil menghebuskan asab rokok dari mulutnya.
Di tempat itu tidak sulit mendapatkan permandangan alam hijau Kebupaten Nagan Raya, yang membentang luas dari bujur barat sampai bujur selatan, di tempat itupula orang orang duduk pada sore harinya menyaksikan mata hari membenam kan diri dalam peluk lautan.
Pesona singgasana singgah mata yang menyebar keindahan alam, serta ditambah dua  sejoli aliran sungai besar yang berkelok  kelok menyulusuri bentangan persawahan hijau menjulur jauh sampai ke tepi laut Kuala Tuhan, yang memberi kenangan tersendiri bagi mereka penikmat wisata alam.
Dari kejauhan terlihat kebun sawit yang hijau jauh membentang di sepanjang wilayah pesisir laut Samudra Hindia, di tengah tengah itupula mengepul asap tebal pabrik kelapa sawit PT Soffindo menjulur ke anggkasa bagaikan kapal uap dalam lautan yang sedang mengarungi samudra.
Kerumunan awan awan kecik seakan menjilat  jilat pucuk hutan perawan meranti, dari beranda Jambo Bengkuang dipuncak Gunung Singgah mata hamparan kemuning padi terlihat di sisi bukit Cout Jawi, serta bangunan pusat Kota Meulaboh  berdiri kukuh dikejauhan menadah langit, seakan menunjuk akhir segala alir, yang tak henti menyimpan gairah bagi pancaran mata.
Tapi sangat disayangakan, kondisi jalan menuju kesana sangat memprihatinkan, amukan longsor  dan terkikis air saat musim hujan tiba, mengakibatkan jalan berlubang serta berbatuan mehambat para pengguna jalan itu, jalan tersebut merupakan satu satunya urat nadi yang menghubungkan antara Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Tengah Itu seakan luput dari penglihatan pemerintah setempat.
Padahal daerah tersebut berpotensi besar bagi  sektor  wisata alam serta meninggkatkan perekonomian bagi warga dengan memasok sayuran dari Kota Takengon.
Malam di ambang petang lembayung mulai memuncratkan warna keemasan ke seluruh penjuru angkasa, tamparan lembut hawa dingin mulai terasa, sebentar lagi mata hari lenyap ditelan bumi. Kami pun turun di keleluasan senja mengakhiri cerita di Jambo Bengkuang.








0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda