Minggu, 01 April 2012

“ Janji yang di Nodai ”


Oleh : T.Hendra Kemala Alamsyah

Surya,  tertunduk lesu di atas kasur lusuhnya, dengan mata berkaca – kaca menerawang ke dinding kamar, hati nya larut dalam keharuan biru langit – langit kamar, diam seribu bahasa, seakan tidak percaya dengan pesan yang baru saja ia baca.

 “ Raisya  ” sebulan yang lalu telah berikral akan setia menunggu ke pulangannya dari kuta raja, kini berubah dalam sekejap, kedipan mata.
 “ bang adinda janji akan jaga diri adinda untuk abang, begitu juga abang tolong jaga diri mu untuk adinda, adinda akan setia menunggu kepulangan mu, sampai abang meraih gelar sarjana di kuta raja, doa adinda selalu menyertai di setiap langkah mu”  kata itu kembali hadir menyesaki relung – relung hati nya, setelah pertemuan tempo hari di kampung nya.

Ikral janji yang  selalu menemani surya dalam kesendirian di perantauan, untuk tetap setia pada sang pujaan, meskipun banyak godaan yang datang.
Kini ikral janji itu telah ternoda, penuh kontra dan dusta,rasanya  ingin menjerit sekuat tenaga, tapi lidah nya kelu dan kaku untuk itu, diri seperti tak  memiliki raga lagi, terlalu perih hatinya kini, Surya, masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia baca.

Assamualaiku wr.. wb..
Bang sebelumnya  adinda minta maaf  atas sms ini, bila nantinya menyakiti hati abang, jujur saja adinda tidak bisa meneruskan hubungan ini, mengingat  jarak yan berjauhan membuat dinda tidak nyaman untuk meneruskan hubungan kita, Lebih baik kita sudahi sampai disini saja, keputusan ini memang berat tapi apa boleh buat bang, lupakan semua jenji – janji yang pernah ada, terimakasih atas waktu yang telah abang berikan selama ini, maafkan dinda telah membuat abang kecewa, wassalam orang yang pernah hadir dalam kehidupan mu. Raisya.

Pesan singkat yang telah mehantarkan ribuan  asa, seperti tombak mehunus dada, hatinya penuh luka “ kau curang Raisya, mana janji mu, tiba – tiba kau berubah begitu saja, di mana ke jujuran mu Raisya, bukan kah kau  telah mengatakan menjadikan jiwa mu sebagai sebuah kelambu, yang akan menyelubungi hati ku, tempat ku bercerita melepas duka di hari – hari tua, tapi kini telah kau ukir menjadi  luka.

Tidak kah kau ingat ketika meminta ku untuk tidak poligami, jikalau kita berumah tangga nanti. Dan aku menyanggupi permintaan mu, oh Raisya.. aku tidak mengerti, sungguh aku tidak paham apa mau mu, hanya karna jarak yang  berjauhan ekau lupakan begitu saja, janji – janji yang pernah ada.

Surya, hanya bisa mengelus dada, mata menatap sayup – sayup lampu kamar di balik butiran air mata, pikiranya menerawang mengulagi memoriam asmara, hari – hari  bersama Raisya, tawa lepas canda nya tempo dulu di ketika  Raisya menanyakan arti dari selop sie blah sapeu, bahak tawa surya lepas sambil memikirkan arti dari pertanyaan itu, Pupus sudah semua harapan lirihnya, sambil mengubar seutai senyum hambar dari bibirnya.

Surya,  mencoba untuk menenangkan diri menerima apa yang sudah menjadi garis tuhan, orang yang dia sayang kini telah berpaling dalam pelukan orang, Surya,  hanya bisa menegadah tanggan meminta kekuatan dari tuhan, agar tabah mehadapi cobaan, biarlah pil pahit ini ia telan, menjadi obat menempuh hidup masa depan.


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda