Sabtu, 14 September 2013

" Kalau jodoh tidak akan kemana"

Catatan ini saya tulis sebagai ungkapan rasa kagum kepada seorang teman, yang tampa sengaja kami berjumpa selepas menjalani sholat terawih berjamaan di mesjid raya baiturrahman, mesjid kebangaan bagi masyarakat aceh tentunya.

Dalam pertemuan singkat itu, diantara kami saling menanyakan keadaan satu sama lain, layaknya orang yang sudah lama tidak pernah bertemu begitulah kira-kira, kami ngobrol sambil jalan keluar dari mesjid itu, mungkin kerena sudah lama tidak bertemu jadi wajar saja bila ada banyak pertanyaan yang dilontarkan dan ada banyak pertanyaan pula yang membutuhkan jawaban.

Percakapan kami hanya sebatas obrolan biasa, ringan santai, percakapan itupun terus membawa kami sampai kedepan pintu gerbang mesjid, kerena sudah agak beberapa menit berlalu lantas saya menanyakan dengan siapa ia pergi kesini apa ada kawan, jangan-jangan temannya sudah ketinggalan sanking asiknya.

Sendiri saja tidak ada kawan, karena memang saya masih sendiri ( lajang ), jelasnya, yaa pada mulanya saya tidak begitu mengerti maksud pengulangan kata “ Belum Ada Kawan”, kerena yang saya tahu ia adalah seorang aktivis kampus, pandai bergaul serta memiliki banyak teman.

Karena penasaran saya kembali menanyakan, Maksudnya apa, bukankah kamu punyak banyak teman, ternyata kawan ini masih punya kebiasaan lama yang tidak membiarkan lawan bicaranya penasaran dengan kata-kata konotatif, lekas ia menjawab, “doakan saya ramadhan ini menjadi bulan terakhir saya sholat tampa ditemani seorang teman”.

Ha ha ha …. Setelah berusaha memahami Akhirnya saya mengerti maksud dari kata-katanya tapi Saya hanya menertawakan ucapanya itu, biar tidak terlalu dibawa serius, Eeehh tapi ianya malah meneruskan membicarakan perkara pendamping hidup yang sampai sekarang belum ia temui, yang menurutnya belum ada kecocokan dengan nya, sedangkan umur sudah melewati tiga puluh.

Lantas bagaimana dengan anda, apa sudah menemukan pendamping atau semacam kekasih hati, ia berbalik menanyakan kepada saya, merasa tidak terlalu menarik untuk menjelaskan saya hanya menggelengkan kepala saja cukup memberi isyarat bahwasanya saya masih memiliki nasib yang sama dengan nya. Saya merasa bersimpati dengan apa yang telah dialami kawan yang satu ini, dengan menggelengkan kepala saya berharap dapat membersarkan hatinya, bahwa yang demikian itu tidak hanya dia yang merasakan hal serupa. orang lain juga mengalami hal serupa konon lagi ada tekanan dari keluarga dan kawan-kawan. sebagai manusia tentu tidak dibolehkan berburuk sangka kepada tuha dengan alasan apapun kerena kasih sayang tuhan lebih utama dari murkanya.

Diakhir percakapan diantara kegalaun kawan yang satu ini namun saya mesih menangkap keteguhan dan kebesaran hatinya, yang membuat saya terkagum-kagum dengannya, " Hanya orang yang sombong yang tidak mau meminta kepada tuhan, paling tidak berdoa, apalagi dibulan yang penuh rahmah ini agar dipertemukan dengan bulan ramadhan berikutnya serta lekas dipertemukan dengan seseorang yang akan menemani dalam sholat nantinya". itulah dapat saya tangkap dari pesanya itu.

Sangat Setuju Kawan, karena Jodoh di tangan Tuhan memang benar adanya Kita tak akan benar-benar tahu siapakah yang akan menjadi jodoh kita kelak. Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh? . Semua itu masih tanda tanya.

Maka dari itu senantiasa ada ruang untuk berdoa, meminta kepada tuhan agar di pertemukan dengan jodoh kita, karena Allah Swt menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik untuk kita.

Pastikan dirikita masih terikat aturan Allah. karena tuhan telah membekali akal untuk memahami aturan-Nya. Ketika kita memutuskan untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita sendiri. jangan terlalu gegabah dan berlebihan, mari kita simak nya berikut ini “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Lihatlah pasangan kita nantinya, karena Kaum jahiliyah menikah dengan melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat Agama dan akhlaknya. Orang yang minim pengetahuan Agama dan rendah akhlaknya tak pantas menjadi Imam bagi sebuah keluarga Islami.

Nabi bersabda:”Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda: ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.Selektif dalam memilih jodoh adalah hal yang baik tetapi terlalu memilih juga akan membuat masalah baru. untuk itu berSeringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau mengikuti pengajian. Ustadz, teman, orang tua, saudara, keluarga, dll bisa diminta bantuan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat, wanita bepergian bersama laki-laki yang bukan muhrim, dll.

Orang pacaran selalu menutupi kekurangannya dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya). Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita. Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang kita cintai.Terkadang orang yang memberikan penilaian buruk dan obyektif dinilai sebagai penghalang padahal kebaikan dan azas manfaat cepat atau lambat akan segera dirasakan.Introspeksi diri

Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah Swt berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian. ” (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik iman dan amalnya.

Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan (tidak Islami), tapi tampil menarik.Jangan Mencintai Manusia Secara Berlebihan“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)

Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah, niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta selalu bersama hamba yang Sholeh.

Jika Gagal Berusaha LagiJika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita.
Masa Penantian JodohJodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)

Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah Swt., orang tua, dan umat. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.Siap Menerima Taqdir AllahHidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan orang shaleh. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)

Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.Wanita Melamar LelakiBukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah ra melalui pamannya melamar Nabi Muhammad Saw setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.
JODOH BUKANLAH MISTERI Laki maupun perempuan adalah manusia yang dibekali akal sehat dan sejumlah instrumen fisik untuk berikhtiar dan berinisiatif demi melakukan hal-hal yang mengamankan dan memenuhi kebutuhanya, seperti memenuhi kebutuhan “bertahan hidup”, memberikan dan memperoleh dan menyalurkan kasih sayang, kebutuhan keamanan, dll.

Laki dan perempuan,sebagai manusia, bertanggungjawab melaksanakan fungsi kemanusiannya dengan cara-cara yang selaras dengan posisinya sebagai makhluk yg terikat dengan norma kebaikan (etika), kebenaran (logika) dan keindahan (estetika). Setiap manusia harus berikhtiar demi melaksanakan fungsinya secara utuh. Yang membedakan laki dan perempuan bukan kewajiban mencari dan memenuhi kebutuhan, namun cara dan prosesnya. Opini “perempuan harus menunggu lelaki yang meminangnya” tidak selalu berkonotasi kepasifan dan kehilangan inisiatif. Siti Khadijah berinisiatif mencari lelaki yang menurutnya memenuhi syarat untuk menjadi pendampingnya.

Cara pencariannya selaras dengan citra keperempuanannya dan tidak keluar dari norma logika, etika dan estetika.(Yandasadra) Taqarrub IlallahPerburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum sunnah, sholat tahajjud/taubat/istikhoroh/hajat/witir/dhuha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dll).

Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.
Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita. Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita. Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.Tidak Putus Asa BerdoaBacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74).

Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll. Waktu mustajab: sepertiga malam yang akhir, selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I’tidal terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa, dalam perjalanan, selesai khatam qur’an, hari Jum’at, baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar, antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib, selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit, sedang ada jenazah.Adab berdoa: menjauhkan hal yang haram, ikhlas, diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang, menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali, tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar, tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil menangis.Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan penggembala kambing: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS 28:24). Allah swt memahami keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan pekerjaan.

Wallahu’alam bishawab.Rasulullah Saaw : “Iman paling kokoh ialah mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berteman dengan kekasih Allah dan berlepas diri dari musuh-musuh Allah.

”Bagi yang mengharapkan cinta sejati, kebahagiaan dan kedamaian hati, bacalah doa ini secara istiqamah:بسم الله الرحمن الرحيمBismillâhir Rahmânir RahîmAllâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa ala âli Sayyidina MuhammadDengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha PenyayangYa Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُوْصِلُنِي اِلَى قُرْبِكَ، وَاَنْ تَجْعَلَكَ أَحَبَّ اِلَيَّ مِمَّاسِوَاكَ، وَاَنْ تَجْعَلَ حُبِّي إِيَّاكَ قَائِدًا اِلَى رِضْوَانِكَ، وَشَوْقِي اِلَيْكَ ذَآئِدًا عَنْ عِصْيَانِكَ، وَامْنُنْ بِالنَّظَرِ اِلَيْكَ عَلَيَّ، وَانْظُرْ بِعَيْنِ الْوُدِّ وَالْعَطْفِ إِلَيَّ، وَلاَتَصْرِفْ عَنِّي وَجْهَكَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ اَهْلِ اْلإِسْعَادِ وَالْخُظْوَةِ عِنْدَكَ يَامُجِيْبُ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allâhumma innî as-aluka hubbaka wa hubba man yu-hibbuk, wa hubba kulli ‘amalin yûshi-lunî ilâ qurbik, wa an taj’alaka ahab-ba ilayya mimâ siwâk, wa an taj’ala hubbî iyyâka qâidan ilâ ridhwânik, wa syawqî ilayka dzâidzan ‘an ‘ishyânik, wamnun binna-zhari ilayka ‘alayya, wanzhur bi’aynil wuddi wal ‘athfi ilayy, walâ tashrif ‘annî wajhak, waj’al-nî min ahlil is’âdi wal khuzhwati ‘indaka yâ Mujîbu yâ Arhamar râ-himîn.

Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang membawaku ke samping-Mu. Jadikan Engkau lebih aku cintai daripada selain-Mu. Jadikan cintaku pada-Mu membimbingku pada ridha-Mu. Jadikan kerinduanku pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu. Anugerahkan padaku memandang-Mu.Tataplah diriku dengan tatapan kasih sayang. Jangan palingkan wajah-Mu dariku. Jadikan aku di antara penerima anugerah dan karunia-Mu wahai Pemberi Ijabah ya Arhamar rahimin. (Doa Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein ra)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda